|
Bacaan: 1 Timotius 6:11-21
Stres. Itulah yang dialami
saudara kami yang bangkrut dalam hitungan jam. Ia baru saja menimbun stok
sembako di dua kiosnya pada sore hari. Malamnya, jago merah membakar habis
seluruh pasar, termasuk dua kios itu. Saudara kami ikut menjadi korban
kebakaran Pasar Johar, Semarang, pada awal Mei 2015. Ia terlihat sangat
letih saat menatap puing-puing kiosnya yang ludes.
Firman Tuhan mengajar kita
untuk tidak tinggi hati dan tidak berharap pada sesuatu yang tak tentu
seperti kekayaan. Hanya Tuhan tempat berharap yang paling aman. Ketika kita
memiliki kekayaan, sepatutnya kita bersyukur, namun juga menyadari bahwa
kekayaan itu bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Hanya orang bodoh
yang mengejar dan berharap kepada kekayaan. Tuhan mau kita mengejar sesuatu
yang jauh lebih berarti yaitu keadilan, ibadah, kesabaran, dan kelembutan
(ay. 11). Kita didorong untuk terus berpegang pada hidup kekal yang diberikan
Allah (ay. 12, FAYH). Kekayaan memang penting dan dapat membuat hidup lebih
nyaman dan enak, tetapi kekayaan bukanlah segalanya. Saat lahir kita tak
membawa apa-apa, saat mati pun sama saja. Kita diundang untuk mengumpulkan
harta di surga, dengan berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka
memberi dan berbagi (ay. 19).
Semakin banyak Tuhan memberkati
kita--entah harta entah kesehatan--biarlah kita semakin rendah hati. Kita
dapat belajar memakai berkat Tuhan untuk memberkati sebanyak mungkin orang
dan memenangkan pertandingan iman yang benar. --Richard Tri Gunadi/Renungan
Harian
Hanya orang bodoh yang mengejar
dan berharap kepada kekayaan.
Agus Santosa/Renungan Harian
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar