Powered By Blogger

Sabtu, 30 April 2016

Renungan Harian Edisi 30 April 2016


Sabtu, 30 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 21-22
Nats: Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2 Timotius 3:16)

Membaca Surat Cinta-Nya

Bacaan: 2 Timotius 3:10-17

Seorang ayah yang kaya pada saat anaknya berulang tahun menghadiahkan sebuah Alkitab dalam tas kulit. Meskipun sang ayah berharap anaknya senang menerima hadiah itu, ternyata si anak berharap akan mendapatkan hadiah mobil. Karena kecewa, anak itu bahkan tidak membuka tas Alkitab itu dan langsung menyimpannya begitu saja. Ia tidak tahu bahwa di dalam Alkitab terselip kunci mobil dari ayahnya. Setelah ayahnya menjelaskan, baru ia sadar.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, seberapa banyak kita membaca Alkitab? Jangan-jangan kita--seperti pemuda tadi--hanya menyimpannya. Seberapa sering kita merenungkan kembali dan memperhatikan firman-Nya di tengah aktivitas yang kita lakukan? Atau, kita hanya membawa Alkitab ketika hendak pergi ke gereja? Kalau begitu, bagaimana kita dapat mengetahui rencana dan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita jika kita jarang berinteraksi dengan firman-Nya?
Memang benar, ketika membaca Alkitab, kita tidak akan menemukan kunci mobil atau kunci rumah seperti dalam Alkitab pemberian ayah kaya tadi. Namun, Alkitab mengandung pesan dan surat cinta dari Tuhan kepada kita, anak-anak kesayangan-Nya. Tuhan ingin kita mengerti kehendak-Nya, kebajikan yang di siapkannya bagi hidup kita. Melalui Kitab Suci, Dia mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran (ay. 16). Karena itu, marilah membuka hati dan hidup kita, untuk memberikan tempat yang sepatutnya bagi firman-Nya, agar kehidupan kita diubahkan menurut kebenaran-Nya. --Priskila Silvia Aprilita/Renungan Harian
Tuhan menyampaikan firman-Nya untuk mengungkapkan kasih-Nya
dan menuntun hidup kita menurut kebenaran-Nya.
 http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160430

Jumat, 29 April 2016

Renungan Harian Edisi 29 April 2016


Jumat, 29 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 19-20
Nats: Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku. (1 Raja-raja 19:4)

Hikikomori

Bacaan: 1 Raja-raja 19:1-18 

Hikikomori adalah istilah bahasa Jepang untuk menggambarkan orang yang suka menyendiri, menjauhi kehidupan sosial. Mereka mengurung diri di kamar selama beberapa waktu, bahkan sampai bertahun-tahun. Mereka melakukannya karena tidak tahan menanggung tekanan hidup. Mereka stres dan depresi.
Tekanan hidup dialami oleh semua orang, tanpa pandang bulu. Elia juga pernah mengalami beratnya tekanan. Ia meminta Tuhan untuk mengambil nyawanya (ay. 4) dan merasa sendirian (ay.10, 14). Itu tanda bahwa Elia depresi. Mengapa? Harapannya untuk membuat orang meninggalkan penyembahan berhala--setelah ia memusnahkan 450 nabi Baal dan 400 nabi Asyera--tidak membuahkan hasil. Raja dan rakyat Israel tidak juga berbalik kepada Tuhan (ay. 1). Ia merasa gagal. Ditambah lagi, Izebel bersumpah hendak membunuhnya (ay. 2).
Tuhan tidak meninggalkan Elia yang terpuruk. Tuhan memperhatikan kebutuhan jasmani Elia (ay. 5-8). Sesuatu yang tampak sepele, namun begitu penting bagi Elia. Tuhan lalu menyadarkan Elia atas tanggung jawab yang Elia emban dengan bertanya, "Apakah kerjamu di sini? (ay. 9, 13). Tuhan juga memberikan tanggung jawab baru kepada Elia untuk mengurapi beberapa orang pilihan Tuhan (ay. 15). Akhirnya, Tuhan menunjukkan pada Elia bahwa pelayanannya selama ini tidaklah sia-sia karena masih ada tujuh ribu orang Israel yang tidak menyembah berhala (ay. 18).
Jika saat ini kita mengalami tekanan, stres, bahkan depresi, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. --Sugihendarto Pratama P./Renungan Harian
Janganlah mempraktikkan hikikomori; Tuhan selalu menemani kita.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160429

Kamis, 28 April 2016

renungan harian edisi 28 april 2016


Kamis, 28 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 16-18
Nats: Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: "Kami siap untuk membangun!" Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu. (Nehemia 2:18)

Mengatasi Persoalan

Bacaan: Nehemia 2:11-20 

Sebagian orang, ketika persoalan datang, menjadi panik, tidak fokus, atau malah menyepelekan dan menunda penyelesaiannya. Padahal, persoalan tidak bakal selesai dengan sendirinya. Perlu dihadapi dan diatasi.
Nehemia menunjukkan dua masalah utama bangsa Yehuda. Pertama, ketiadaan tembok, yang berarti ketiadaan perlindungan, pertahanan, dan identitas sebagai bangsa. Kedua, ada kemungkinan, bangsa itu tidak tahu mereka sedang bermasalah (ay. 17). Nehemia harus menjelaskannya kepada mereka. Ia telah terlebih dahulu menganalisis strategi untuk membangun kembali tembok Yerusalem (ay. 12-15). Dengan ditemani beberapa orang, ia mengidentifikasi masalah yang ada. Setelah itu, ia menyadarkan bangsanya akan masalah itu dan memotivasi mereka untuk turut memikirkan pembangunan kembali tembok kota. Pembangunan itu diperlukan agar mereka tidak dicela lagi oleh bangsa asing. Nehemia membangkitkan semangat mereka dengan menunjukkan "betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku." Dan, ia berhasil.
Kita tidak mungkin hidup tanpa masalah. Besar-kecil, berat-ringan, masalah akan selalu ada. Kita dapat belajar dari cara Nehemia mengatasi persoalan, yaitu dengan tidak menunda-nunda proses penyelesaiannya. Kita menganalisis masalah dan memotivasi diri untuk menyelesaikannya. Dan, yang paling utama, kita bersandar pada kuasa Allah. Jadi, jangan mengabaikan masalah atau lari dari masalah, namun hadapilah dengan penyertaan dan perlindunganNya. --Adama Sihite/Renungan Harian
Analisis yang kuat menghadapi persoalan itu baik,
mengandalkan kekuatan Tuhan itu lebih baik.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160428

Rabu, 27 April 2016

Renungan Harian Edisi : 27 April 2016

Rabu, 27 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 14-15
Nats: Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. (Kolose 3:8)

Jangan Simpan Sampah

Bacaan: Kolose 3:5-17 

Di lingkungan tempat tinggal saya, truk pengangkut sampah tidak datang setiap hari, tetapi dua kali dalam seminggu, setiap Senin dan Kamis. Namun, setiap pagi saya membuang sampah rumah ke tempat sampah besar di depan rumah, sebelum nanti diangkut truk sampah menurut jadwal. Pernah, Lala, putri sulung kami, bertanya, mengapa setiap pagi saya repot-repot membuang sampah itu, padahal truk sampah tidak akan datang mengambilnya. Jawaban saya sederhana: Karena saya tidak nyaman menyimpan sampah di dalam rumah.
Tidak ada orang yang nyaman menyimpan sampah di dalam rumah. Namun, bagaimana dengan sampah rohani? Faktanya, banyak orang nyaman-nyaman saja menyimpan sampah rohani dalam hidup mereka. Coba kita tilik cara hidup kita masing-masing. Masihkah kita menyimpan sampah rohani? Segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan juga keserakahan dalam diri kita (ay. 5)? Masihkah kita menyimpan kemarahan, geram, kejahatan, fitnah dan segala perkataan kotor yang keluar dari mulut kita (ay. 8)?
Memang bukan perkara mudah untuk menjaga hidup kita bersih dari sampah rohani. Namun, kita telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. Kita telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui (ay. 9-10). Sebagai orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, baiklah kita membuang sampah rohani itu, lalu mengenakan segala kebajikan (ay. 12-17). Memang bukan perkara mudah, tapi kita pasti dimampukan jika kita mengandalkan Roh Kudus. --Okky Sutanto/Renungan Harian
Jagalah kebersihan, baik secara jasmani maupun rohani.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160427

Selasa, 26 April 2016

Renungan Harian Edisi : 26 April 2016


Selasa, 26 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 12-13
Nats: Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. (Amsal 3:27)

Seperti Jarak Berkilo-kilo

Bacaan: Lukas 16:19-31

Kath tidak boleh ikut duduk di sekeliling meja makan. Tempatnya berada dekat pintu. Makanan untuk dirinya sudah ditentukan di atas piring. Ia seorang pembantu rumah tangga yang tidak memiliki sanak saudara. Pada zaman itu orang miskin memang dibiarkan begitu saja. Sikap tidak peduli terhadap nasib atau penderitaan orang lain dianggap lumrah. Demikian tulis Max Bauer, seorang buruh tani Jerman, dalam autobiografinya.
Ketidakpedulian semacam itu juga menimpa Lazarus si miskin. Ia berbaring di dekat pintu rumah seorang yang kaya (ay. 20). Ia kelaparan, dan ingin sekali menghilangkan laparnya itu dengan makanan yang jatuh dari meja si orang kaya (ay. 21). Tetapi, tidak ada sedikit pun makanan yang jatuh. Semuanya tetap berada di atas meja, jauh dari jangkauan Lazarus.
Meskipun seorang pengemis, Lazarus tidak merintih meminta seiris roti atau setetes air. Ia pasrah mengharapkan kemurahan hati si orang kaya. Namun, si kaya rupanya tidak peduli. Jarak antara meja dan tempat Lazarus berbaring seperti berkilo-kilo meter. Dan, Lazarus menanggung sampai mati (ay. 22). Dan, jarak lalu terbentang sebagai jurang tak terseberangi antara pangkuan Abraham dan tempat orang kaya itu tersiksa dalam nyala api (ay. 26).
Bagaimanakah dengan hidup kita? Jika kita memiliki kemampuan untuk menolong dan menyantuni sesama yang miskin dan menderita, apakah kita malah tidak peduli? Apakah kita memilih membentangkan jarak berkilo-kilo meter jauhnya? --Nugie Stine/Renungan Harian
Jika kita bersedia, menolong orang lain bukanlah seperti
menyeberangi jurang yang berjarak berkilo-kilo meter.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160426

Senin, 25 April 2016

Renungan Harian Edisi : 25 April 2016


Senin, 25 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 9-11
Nats: Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun (Ulangan 6:7)

Lihat Bapaknya

Bacaan: Ulangan 6:1-25 

Seorang anak ketahuan sedang mencuri mangga tetangga. Tetangga sangat marah dan berkata, "Awas, ya! Kamu masih kecil sudah berani mencuri. Akan saya laporkan kepada bapakmu supaya kamu dihajar." Tiba-tiba si anak menengok ke atas pohon dan berteriak, "Pak, Bapak, cepat turun, kita ketahuan!"
Humor itu mengingatkan saya pada pepatah lama: air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Pada umumnya sifat seorang anak mengikuti teladan orangtuanya.
Tuhan memerintahkan bangsa Israel mengajarkan firman-Nya kepada anak-anak mereka berulang-ulang dengan membicarakannya saat duduk di rumah, saat dalam perjalanan, saat berbaring dan bangun. Pada setiap kesempatan orangtua di dorong terus menerus mengajarkan firman kepada anak-anak (ay. 7). Tentu Tuhan punya alasan kuat tentang perlunya mengajarkan firman kepada anak sejak kecil. Firman Tuhan dipercaya sebagai sumber norma atau nilai utama yang akan membentuk karakter anak.
Rasul Paulus pun mengingatkan para bapak di jemaat Efesus, agar tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka. Sebaliknya, mereka perlu mendidik anak-anak itu di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Ef. 6:4).
Karena itu, jangan terburu-buru menyalahkan anak dan mengeluh melihat tingkah anak kita. Kita dapat berintrospeksi, apakah ajaran dan contoh hidup kita di depan anak-anak sudah selaras dengan firman-Nya? Berdoalah agar mereka diubahkan melalui ajaran dan contoh tersebut. --Lim Ivenina Natasya/Renungan Harian
Ajaran yang disertai dengan contoh hidup
akan melekat kuat dan berkesan pada anak-anak.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160425

Minggu, 24 April 2016

Renungan Harian Edisi : 24 April 2016


Minggu, 24 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 8
Nats: Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. (Markus 6:26)

Obral Janji?

Bacaan: Markus 6:14-29 

Kegembiraan atau kesedihan yang tidak terkontrol bisa membuat pikiran kita menjadi labil. Saat gembira, orang mengobral janji tanpa berpikir panjang apakah bisa memenuhinya atau tidak. Saat sedih, orang juga mengobral janji muluk-muluk asal harapannya dapat menjadi kenyataan. Celakanya, obral janji seperti itu dapat berbuah malapetaka. Saat pikiran mulai jernih kembali, muncullah perasaan sedih, menyesal, dan tidak rela memberikan hal-hal yang sudah dijanjikannya.
Hati Herodes sedang diliputi kegembiraan. Hatinya begitu terbuai oleh liukan gemulai putri tiri yang menari pada perayaan hari ulang tahunnya. Tanpa pikir panjang, ia mengobral janji--bahkan ia mengucapkannya dengan bersumpah--akan memberikan apa saja yang diminta putrinya itu. Ini berarti bahwa Herodes harus bersiap-siap untuk memberikan sesuatu yang mungkin bukan miliknya. Dan benar saja--betapa tersentak hati Herodes saat ia mendengar putrinya itu meminta kepala Yohanes di sebuah talam! Herodes tak bisa mengelak. Obral janji yang dibuatnya itu justru berbuah malapetaka bagi dirinya dan juga bagi orang lain.
Janji adalah utang! Jika janji sudah terucap, kita harus menepatinya. Karena itu, kita memerlukan hati yang tenang dan pikiran yang jernih sebelum mengucapkan janji. Akan lebih bijaksana jika kita tidak mengobral janji sehingga kita dapat melewati hari demi hari dengan tenteram, bukannya dikejar-kejar oleh janji yang sebenarnya kita tidak sanggup memenuhinya. --Samuel Yudi Susanto/Renungan Harian
Janji yang terucap tanpa berpikir panjang justru dapat mendatangkan malapetaka.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160424

Sabtu, 23 April 2016

Renungan Harian Edisi : 23 April 2016


Sabtu, 23 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 5-7
Nats: Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini." (Matius 9:30)

Gaduh

Bacaan: Matius 9:27-31 

Gaduh itu gempar, heboh, ribut. Lazimnya, kegaduhan tidak mewakili kenyataan yang sebenarnya. Ada kabar yang direkayasa, berita yang diplintir, atau pesan yang disimpangkan. Kucing diceritakan bak seekor harimau, ikan tuna diberitakan sebagai hiu ganas, dan belut dihebohkan sebagai bayi ular piton. Kegaduhan itu menelikung fakta, peristiwa atau keadaan sebenarnya. Kata Mark Twain, kegaduhan seperti induk ayam yang baru saja bertelur, lalu berkotek seolah telah menelurkan sebuah asteroid.
Setiap kali Tuhan Yesus menyembuhkan, menahirkan, ataupun membangkitkan orang mati, kita sering membaca pesan-Nya agar tidak memberitakan mukjizat-Nya itu--"Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini." Pesan itu bukan larangan mewartakan Kabar Baik. Yesus hanya ingin perbuatan-Nya yang ajaib itu tidak menyulut kegaduhan. Pesan itu juga mengajarkan kita untuk melakukan perkara-perkara besar bagi Tuhan, dan bukan sekadar berbicara tentang perkara-perkara ilahi saja. Para rasul juga dikenal karena perbuatan dan tindakan mereka, bukan karena mereka pandai berdalih atau terampil berorasi.
Tuhan Yesus tahu bahwa kegaduhan tidak menghasilkan apa pun, hampa belaka. Mengumbar bicara tanpa tindakan hanyalah kegaduhan, tidak ada hasilnya. Ketika Tuhan Yesus berpesan, "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini", Ia telah melakukan perkara yang besar bagi Allah Bapa. Bagaimana dengan kita, masihkah kegaduhan itu memesona? Percayalah, kegaduhan itu kehampaan belaka, segeralah menjauh darinya! --Agus Santosa/Renungan Harian
Tidak ada sesuatu pun yang datang dari kehampaan. --Shakespeare

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160423

Jumat, 22 April 2016

Renungan Harian Edisi : 22 April 2016

Jumat, 22 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 2:26-4
Nats: Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (Matius 6:21)

Gaji Terlalu Banyak

Bacaan: Matius 6:19-24 

John MacArthur, pendeta dan penulis buku-buku pendalaman Alkitab, menceritakan pengalamannya tentang gaji. Grace Community Church, gereja tempatnya melayani, memberinya gaji besar sekali. "Terlalu banyak, " katanya. "Mengapa kalian menggaji saya sedemikian besar?"
Seorang penatua menjawabnya, "Karena kami ingin tahu apa yang akan Anda lakukan dengan apa yang tidak Anda perlukan."
Uang tampaknya merupakan sebuah bahan ujian yang sangat baik bagi karakter kita. Seperti tersirat dalam pernyataan Tuhan Yesus, persoalannya bukan terletak pada berapa banyak uang yang kita miliki; persoalannya adalah di manakah hati kita berada. Sikap hati dan fokus hidup kita dapat terpancar dari cara kita mengelola uang.
Sebagian orang mungkin akan berdiam diri jika berada dalam posisi John MacArthur. "Toh itu berkat yang sudah menjadi bagian saya, " pikirnya. Jarang kita melihat perlunya kesesuaian antara hak dan kewajiban. Kita juga perlu belajar menguasai diri, memahami batas antara kebutuhan dan keserakahan. Orang yang serakah akan menggunakan tipu daya atau menempuh cara yang tidak patut demi menambah tebal dompetnya.
Marilah kita bersama-sama memeriksa hati kita. Apakah kita mengumpulkan uang karena hendak memuaskan keinginan pribadi? Ataukah kita menggunakan uang untuk memuliakan Allah dengan memberkati kehidupan orang-orang di sekitar kita dan memajukan Kerajaan-Nya? Kiranya hati kita tertuju pada perkara yang benar: mengumpulkan harta surgawi, bukan memburu harta duniawi. --Arie Saptaji/Renungan Harian
Orang yang bijak tidak membiarkan dirinya diperhamba oleh uang,
melainkan mendayagunakan uang sebagai hambanya.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160422

Kamis, 21 April 2016

Renungan Harian Edisi : 21 April 2016

Kamis, 21 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 1-2:25
Nats: Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat. (Lukas 15:10)

Membela Kelompok Minoritas

Bacaan: Lukas 15:8-10 

Berdasarkan Deklarasi PBB 1948, salah satu indikator suksesnya proses implementasi perlindungan hak asasi manusia di sebuah negara adalah kemampuan pemerintah dalam melindungi golongan minoritas. Yang sering terjadi, suara mayoritas mendorong negara melakukan ketidakadilan terhadap kelompok minoritas.
Ayat bacaan hari ini sangat menarik jika dihubungkan dengan kondisi di atas. Di situ ada dua golongan. Pertama, golongan mayoritas, yaitu orang-orang yang telah selamat. Kedua, golongan minoritas, yaitu orang-orang berdosa. Perumpamaan itu menunjukkan pesan ke berpihakan yang sangat jelas. Perempuan itu mencari satu dirhamnya yang hilang dan bersukacita ketika ia menemukannya. Yesus menambahkan bahwa malaikat di surga pun bersukacita. Keselamatan satu jiwa sungguh berharga.
Pesan keselamatan dalam ajaran kekristenan bukan hanya ditujukan bagi golongan mayoritas atau orang-orang yang sudah ada di dalam gereja. Sebaliknya, Yesus Kristus mendorong gereja untuk menjangkau mereka yang tersisih dan berdosa. Berkali-kali Yesus mengajarkan pada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mengundang orang-orang itu masuk ke dalam pesta perjamuan makan-Nya. Jadi, sebagai seorang beriman kita harus mampu merefleksikan ajaran Yesus ini. Kita semestinya termotivasi untuk melakukan pembelaan bagi orang miskin, lemah, atau kelompok minoritas. Itulah salah satu panggilan penting bagi kita orang percaya. --Tatag Triyahyo Adi/Renungan Harian
Kelompok mayoritas seharusnya tidak menindas kelompok minoritas,
melainkan menjangkau, melayani, dan melindungi mereka.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160421

Rabu, 20 April 2016

Kasih Tuhan Tak Terbatas Untuk Kita







Renungan Harian Edisi 20 April 2016


Rabu, 20 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 23-24 
Nats: Tetapi aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepada-Mu; mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya. (Mazmur 71:14-15)


Harapan yang Pasti


Bacaan: Mazmur 71:1-24 
Mengawali musim tanam, para petani disibukkan dengan pekerjaan mempersiapkan lahan agar siap ditanami benih padi. Perlu tenaga dan biaya yang besar. Namun, kesulitan ini tidak merintangi para petani untuk melakukan pekerjaan mereka dengan tekun. Mereka memiliki impian dan harapan yang besar: ketika musim panen tiba mereka akan menerima imbalan yang setimpal dari kerja keras yang telah dilakukan.
Pemazmur mengawali doa dengan pengakuan akan segala keterbatasan yang dimilikinya. Sebagai mahluk yang serba terbatas, ia membutuhkan Tuhan yang tidak terbatas, agar mampu menjalani setiap proses kehidupan dengan baik. Pemazmur dengan sepenuh hati meyakini keberadaan Tuhan yang maha pengasih dan penuh keadilan.
Pemazmur kembali menekankan perlunya memiliki harapan tentang masa yang akan datang. Harapan yang bisa dijadikan tumpuan, agar bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Tuhan merupakan harapan yang pasti. Dia akan memberikan perlindungan kepada semua umat yang dikasihi-Nya. Dia juga akan menuntun umat-Nya berjalan dalam kemenangan.
Menjalani kehidupan ini akan lebih indah ketika kita meletakkan pengharapan hanya kepada Tuhan. Bersama dengan Tuhan, kita dimampukan menjalani setiap proses kehidupan dengan baik, sesuai dengan rencana-Nya dalam kehidupan kita. Untuk itu, jangan pernah berhenti berharap. Tuhan adalah sumber dan tempat pengharapan kita. Dia akan memberikan yang terbaik pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang. --Wahyu Barmanto/Renungan Harian
Berharaplah hanya kepada Tuhan yang senantiasa
memberikan perlindungan dan pertolongan tepat pada waktunya.

 sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160420





Selasa, 19 April 2016

Renungan Harian Edisi 19 April 2016

Selasa, 19 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 21-22 
Nats: Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. (Kolose 1:15)


Pak Karyo Ditinggal



Bacaan: Kolose 1:15-23 
Ada seorang guru di Kendal yang memasuki masa pensiun, sebut saja namanya Pak Karyo. Sebagai penghargaan untuknya, sekolah mengadakan acara perpisahan di Yogya. Rombongan para guru beserta Pak Karyo pun berangkat ke Yogya. Seharian mereka berkunjung ke beberapa tempat wisata di kota itu dan berakhir di Jalan Malioboro. Di situ rombongan berpencar, sibuk dengan urusan dan tujuan masing-masing. Pada waktu yang ditentukan, rombongan kembali ke bus dan segera bergerak pulang ke Kendal.
Sesampai di daerah Muntilan, kira-kira 20 km dari Yogya, para rekan guru yang kecapekan itu teringat akan Pak Karyo. Mereka mencarinya, dan ternyata Pak Karyo tidak ada di dalam bus! Gemparlah seluruh isi bus dan serentak mereka meminta pak sopir untuk berbalik arah ke Malioboro.
Tuhan Yesus, dalam bacaan hari ini, adalah pokok dari segala sesuatu. Dia adalah yang utama dari segala yang diciptakan (ay. 15). Dialah yang semestinya menjadi pusat hidup orang percaya. Namun, yang sering terjadi, Tuhan Yesus malah ditinggalkan di belakang. Bukannya hidup untuk menyenangkan hati-Nya, kita sibuk mengejar kesenangan dan kepentingan kita masing-masing.
Mungkin kita dapat membandingkannya dengan pelayanan yang kita jalani. Apakah kita benar-benar melakukannya untuk menyenangkan hati Tuhan, atau mengejar kepentingan pribadi? Tak jarang, suatu acara pelayanan malah berakhir dengan perselisihan, kekecewaan, dan kemarahan. Karena itu, penting menjadikan Dia pusat hidup kita. --Edy Santoso/Renungan Harian
Ketika kita menempatkan Yesus sebagai pusat kehidupan, 
kita akan melepaskan keegoisan dan melayani satu sama lain.

sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160419

Senin, 18 April 2016

Renungan Harian Edisi 18 April 2016


Senin, 18 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 19-20 
Nats: Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" (Keluaran 3:3)


Panggilan Hati



Bacaan: Keluaran 2:23-3:12 
Kendati menggelandang akibat kediktatoran militer di negerinya, Brazil, Raimundo Arruda Sobrinho tetap melakukan kegemarannya: menulis puisi. Setiap hari selama tiga puluh lima tahun. Kebiasaannya yang janggal itu memantik minat dan niat Shalla Monteiro untuk menolong gelandangan tua itu. Lewat akun fesbuk yang ditanggapi khalayak, kehidupan Raimundo berubah. Kini, pada usia ke-77, karya-karya tulisnya diterbitkan dan digemari orang.
Panggilan hati Musa ialah membela yang lemah. Budak Israel yang dianiaya orang Mesir dibelanya (2:11-12). Anak-anak gadis Yitro yang diusir para gembala dibelanya (2:16-17). Hanya, pelariannya dari kejaran Firaun mengubah total kehidupannya. Dari seorang pangeran menjadi seorang gembala ternak. Setelah empat puluh tahun, masihkah panggilan hati itu menyala di hatinya? Simaklah kisah semak duri yang menyala. Tuhan menanam panggilan di hati Musa, kehidupan sekeras apa pun tak sanggup "membakar"-nya. Dorongan hati itu tetap "menyala" dan siap dipakai Tuhan pada waktu-Nya.
Adakah dorongan yang terus menyala di hati Anda untuk berbuat sesuatu? Melukis? Menulis? Melanjutkan studi? Membuka usaha sendiri? Merintis kegiatan sosial? Jangan lekas menyerah. Jika Tuhan "menyalakannya", tiada yang mampu memadamkannya. Usia bukan alangan. Ayo, mulailah melangkah. Tekunilah. Waktu-Nya bukan waktu kita. Anda tak akan pernah terlampau tua untuk memenuhi sebuah panggilan hati. --Pipi A. Dhali/Renungan Harian
Panggilan hati yang dari Tuhan
tak akan musnah dibakar oleh waktu dan kesukaran.

sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160418

Minggu, 17 April 2016

Renungan Harian Edisi 17 April 2016

Minggu, 17 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 17-18 
Nats: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)


Sekadar Ibadah



Bacaan: Matius 11:25-30 
Banyak orang Kristen beribadah dengan harapan ibadah itu dapat menyelesaikan masalah dan pergumulan hidup yang mereka alami. Tak salah memang. Namun, faktanya sering berbeda dari harapan, dan banyak orang tidak menyadarinya. Mereka menjadi kecewa, lalu berhenti beribadah karena, setelah sekian lama beribadah, masalah dan pergumulan hidup itu tak kunjung beres.
Bukan berarti kita memandang remeh ibadah atau menganggap ibadah itu tidak perlu. Firman-Nya mengingatkan kita untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah kita (Ibr. 10:25). Namun, perlu diingat, ibadah adalah langkah awal untuk kita terbebas dari masalah dan pergumulan hidup. Ibadah bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhirnya tidak lain bertemu dengan Yesus. Untuk apa? Yesus yang berjanji, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (ay. 28). Dengan kata lain, yang akan menyelesaikan masalah dan pergumulan hidup kita bukanlah ibadah itu sendiri, melainkan perjumpaan dengan Yesus.
Bandingkan dengan orang sakit. Pergi ke rumah sakit tidak membuatnya jadi sembuh. Untuk sembuh, ia harus bertemu dengan dokter, mengizinkan dokter memeriksanya, meminum obat secara teratur, dan mengikuti saran dokter. Kiranya kita pun tidak sekadar beribadah. Sebaliknya, kita sungguh-sungguh bertemu dengan Yesus, Sang Pemilik Ibadah. Mengizinkan Dia memeriksa hidup kita, lalu hidup seturut dengan kehendak dan rencana-Nya. Dan, pada waktu-Nya, masalah dan pergumulan hidup kita akan teratasi. --Okky Sutanto/Renungan Harian
Banyak orang pergi beribadah, 
namun tidak semua orang bertemu Sang Pemilik Ibadah.

sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160417

Sabtu, 16 April 2016

Renungan Harian Edisi 16 April 2016

Sabtu, 16 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 15-16 
Nats: Janganlah menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil (Yohanes 7:24)


Awas Keliru Menilai!


Bacaan: Yohanes 7:14-24 
Sore itu suasana hening di sebuah kereta api bawah tanah tiba-tiba terganggu oleh ulah dua bocah. Mereka mengganggu penumpang lain. Si kecil menarik-narik koran yang sedang dibaca seorang penumpang, kadang merebut pena penumpang lain. Kakaknya berlari dan menabrak kaki penumpang yang berdiri karena gerbong itu penuh. Beberapa penumpang mulai terganggu dan menegur bapak kedua anak.
Bapak itu menenangkan kedua anaknya. Suasana kembali hening. Namun, tak lama, keduanya mulai bertingkah lagi. Malah semakin nakal. Si bapak kembali menenangkan mereka. Kejadian itu berulang beberapa kali sampai beberapa penumpang marah, mem bentak bapak itu.
Akhirnya bapak itu memohon maaf dan menjelaskan. "Tidak biasanya mereka bertingkah nakal seperti itu. Tadi pagi, kedua anak ini baru saja ditinggal oleh ibu yang sangat mereka cintai. Ia meninggal karena penyakit leukimia." Para penumpang di gerbong itu pun terdiam.
Kita sering menghakimi orang berdasarkan apa yang tampak menurut ukuran manusia sehingga penghakiman kita keliru (ay. 24). Tuhan Yesus mengajarkan agar kita menghakimi dengan adil. Salah satunya, dengan berhati-hati tidak langsung menjatuhkan penghakiman, namun berusaha memahami terlebih dahulu latar belakang perbuatan seseorang. Kita bukan hanya melihat buah atau perbuatannya, melainkan memahami pula akar atau motivasinya. Dengan begitu, kita dapat merespons persoalan itu dengan tepat. Bukannya menghakimi, kemungkinan besar kita malah akan berbelaskasihan. --Lim Ivenina Natasya/Renungan Harian
Kenali terlebih dahulu hal yang melatarbelakangi tindakan seseorang, 
agar kita tidak keliru menilai dan menanggapinya.


 sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160416

Jumat, 15 April 2016

Renungan Harian edisi 15 April 2016


Jumat, 15 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 13-14 
Nats: Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, "Maukah engkau sembuh?" (Yohanes 5:6)


Maukah Engkau Sembuh?



Bacaan: Yohanes 5:1-18 
Apabila Anda berada di kolam Betesda saat itu dan mendengarkan pembicaraan Yesus dengan orang lumpuh yang terbaring di sana, bagaimana reaksi Anda? Mungkin Anda mengerutkan kening waktu mendengar Yesus bertanya, "Maukah engkau sembuh?"
Kening Anda mungkin akan lebih berkerut lagi ketika mendengar jawaban si lumpuh. Ia berkata, "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai guncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Rupanya ia sudah terlalu lama terbaring di sana (38 tahun!) sehingga saat ada orang yang bertanya apakah ia mau sembuh, ia sudah kehilangan niat untuk sembuh dan malah mencari alasan kenapa ia tetap sakit.
Tanpa sadar kita pun suka berlaku seperti orang lumpuh tadi. Ada dosa-dosa, kebiasaan, atau hal-hal tertentu yang membuat kita "lumpuh" secara rohani dan hal itu sudah berlangsung cukup lama. Berulang kali Tuhan lewat berbagai cara menawarkan kesembuhan, tetapi kita dengan berbagai alasan menolaknya, karena sudah terlalu lama hidup dengan ikatan tersebut. Bahkan mungkin kita berpikir, tidak ada harapan lagi untuk kita dipulihkan.
Kabar baiknya, tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan, selama kita mau membuka diri. Rindukan kesembuhan, pemulihan yang Tuhan sediakan bagi kita. Jangan batasi diri dengan berpikir sudah tidak ada harapan. Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Bukalah hati dan biarkan kuasa-Nya membebaskan kita. --Denny Pranolo/Renungan Harian
Jangan terburu-buru menutup pintu harapan akan pemulihan.
Jangan menolak uluran tangan-Nya yang menawarkan kesembuhan.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160415

Kamis, 14 April 2016

Renungan Harian edisi 14 April 2016


Kamis, 14 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 10-12
 
Nats: Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya... (Yunus 3:1)


Anugerah Kesempatan Kedua

Bacaan: Yunus 3:1-10 
Tak jarang "pengenalan kanak-kanak" kita akan Allah terus melekat di benak kita walau kita sudah dewasa secara usia. Bahwa Allah itu bagaikan penguasa yang penuh wibawa, perkasa, yang keras dan tak terbantahkan. Segala perintah-Nya pantang untuk ditawar, ditunda, atau diabaikan. Sekali saja kita berani tidak menaati perintah-Nya, pasti kita akan disikat habis!
Namun, jika kita mendalami kitab Yunus, kita akan tercengang. Ternyata Allah itu panjang sabar dan besar kasih setia-Nya (bdk. Yun. 3:10; 4:2, 11)! Bayangkan, Yunus, seorang nabi, seharusnya memiliki kedekatan dan ketaatan lebih dari orang kebanyakan. Nyatanya, ia gagal. Dengan sadar ia melarikan diri menjauhi Allah. Yunus mengabaikan tugas panggilan-Nya untuk memberitakan maksud Allah kepada bangsa Niniwe.
Dengan penuh kesabaran, Allah menyelamatkan Yunus. Melalui seekor ikan besar Allah membawa Yunus kembali pada panggilan hidupnya, yakni ke Niniwe, bukan ke Tarsis (2:10). Dan, "datanglah firman Tuhan kepada Yunus untuk kedua kalinya", menunjukkan bahwa kemurahan Tuhan sungguh tiada habisnya. Tuhan memberi kesempatan baru. Seperti ungkapan Yeremia: "Selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu" (Rat. 3:23).
Sebagai hamba dan anak Tuhan, kita bisa gagal dalam mengiring dan menaati perintah-Nya. Namun, selalu tersedia anugerah kesempatan kedua dari Dia, agar kita bangkit dan kembali pada jalan ketaatan. Ke Niniwe, itu yang Tuhan mau. Bukan ke Tarsis, seperti yang kita mau. Bersediakah kita menerima kesempatan yang kedua? --Susanto/Renungan Harian
Selalu tersedia anugerah kesempatan kedua, 
namun janganlah menyia-nyiakan kemurahan-Nya.


 sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160414

Rabu, 13 April 2016

MENGAKUI DOSA

MENGAKUI DOSA
1 Yohanes 1:5-10
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." 1 Yohanes 1:9
Dalam buku How to Live 365 Days a Year, John Schindler menuliskan bahwa, "Tiga dari empat ranjang rumah sakit ditempati oleh orang yang menderita gangguan emosional" Ia menyimpulkan, "Stres emosional saat ini merupakan penyebab nomor satu timbulnya sakit-penyakit". Lanjutnya dalam penguraiannya, lalu apa penyebab dari stres itu sendiri? Salah satunya yang paling menonjol adalah rasa bersalah, perasaan yang merasa tidak diampuni dari pasien, baik oleh orang yang berhubungan langsung dengannya maupun kepada nilai agama yang dianut.
Dahulu sering dipahami mengaku dosa adalah ketika kita menghadap Tuhan dan berdoa menyebutkan daftar dosa kita, menyesalinya, meminta ampun, dan bertobat dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Akan tetapi selanjutnya, saat jatuh melakukan dosa lagi kita cenderung frustasi sehingga timbul perasaan tertekan dalam batin.
Sebenarnya perlu kita ketahui bahwa "mengaku" (Yun.homologeo), ternyata memiliki pengertian mengucapkan hal yang sama atau menyepakati. Mengakui dosa dengan demikian berarti menyepakati pernyataan Allah tentang dosa kita. Di dalam Kristus, Allah menebus kita dari dosa, satu kali untuk selama-lamanya (Ibrani 8:12, 10:17). Jadi ketika kita mengakui dosa, maka Allah setia dan adil akan mengampuni segala dosa kita.
Pokok Doa:
Tuhan terima kasih karena mau mengampuni segala pelanggaran dan dosaku. Amin
Kata-Kata Bijak:
Kasih Kristus yang memungkinkan kita menerima pengampunan dosa.
Yang Harus Dilakukan:
Terimalah pengampunan-Nya dengan hati tidak tertuduh dengan pelanggaran
Semangat Pagi.
Tuhan Yesus Mengampuni.

Yesus Kristus Penyelamat Kita.



Renungan Harian Edisi 13 April 2016


Rabu, 13 April 2016                                                             sabda.org

Bacaan Setahun: 2 Samuel 6-9
 
Nats: Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka. (Kejadian 33:4)


Belajar dari Esau

Bacaan: Kejadian 33:1-20 
Siapa yang tidak kecewa saat di khianati oleh adik kandung sendiri? Itulah yang dialami oleh Esau. Esau begitu marah setelah ia ditipu oleh Yakub, adiknya. Pertama, Yakub telah berhasil "membeli" hak kesulungan milik kakaknya itu seharga semangkuk kacang merah. Kedua, dengan cara yang licik, Yakub telah menyerobot berkat yang seharusnya menjadi miliknya. Esau dendam dan berikhtiar membunuh adiknya itu (Kej. 27:41).
Tentu sulit bagi Esau melupakan begitu saja peristiwa pahit itu. Tetapi, tampaknya Esau belajar memahami kesalahannya. Ia belajar bahwa menyimpan dendam dan kebencian justru akan memberikan dampak buruk baginya. Esau pun belajar mengampuni! Dan, menurut saya, Tuhan menghargai tindakannya, yang bersedia berjalan menurut firman-Nya.
Kita mungkin punya pengalaman sama seperti Esau. Kita melakukan kesalahan, ditipu, dan dikhianati, bahkan oleh orang yang terdekat dengan kita. Jujur, ada perasaan marah, bahkan dendam. Tetapi, Roh Kudus menghendaki kita membereskan hati dan mengampuni. Tidak mudah dan perlu proses panjang. Tetapi, kita perlu melakukannya!
Kita dapat belajar dari Esau. Tahun-tahun sakit hatinya telah diganti Tuhan dengan tangis sukacita kemenangan saat ia melepaskan pengampunan untuk Yakub. Pengampunan bukanlah suatu kasus lupa ingatan yang dapat menghapus luka masa lalu dengan sekejap. Sebaliknya, pengampunan adalah proses penyembuhan dengan mengeluarkan racun dari luka hati tersebut. Dengan demikian, hati kita pun dibebaskan dan dipulihkan. --Samuel Yudi Susanto/Renungan Harian
Cara yang paling efektif dan terhormat
untuk membalas dendam adalah dengan mengampuni!

sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160413





Selasa, 12 April 2016

19 Ayat emas Alkitab Kristen dari Perjanjian lama dan Baru

19 Ayat emas Alkitab Kristen dari Perjanjian lama dan Baru

Inilah 19 Ayat emas Alkitab Kristen dari kitab perjanjian lama dan kitab perjanjian baru untuk kita jadikan sebagai bahan renungan dan untuk memotivasi kehohanian.

Ayat emas Alkitab Kristen

Matius 7 : 7-8
Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu.Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Yesaya 56 : 22b-23a
Orang-orang Pilihanku akan menikmati pekerjaan mereka. Mereka tidak akan bersusah-susah dengan percuma.

Yesaya 56 : 24
Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; Ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya.

Ulangan 32 : 10
Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.

Amsal 6:9-11
Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Amsal 10:4
Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.
 
Amsal 10:22
Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.

Amsal 10:11
Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.
 
Amsal 10:22
Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.
 
Amsal 12:4
Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.

Amsal 12:9
Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan.
 
Amsal 12:25
Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.
 
Amsal 13:11
Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.
 
Amsal 20:4.
Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa.
 
Amsal 20:21
Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati.

Matius 21:22
Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."
 
Markus 11:24
Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
 
Ibrani 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
 
Yeremia 29:11
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Diambil dari : http://kata-renungan-kristen.blogspot.co.id/2013/04/19-kumpulan-ayat-emas-alkitab-perjanjian-lama-perjanjian-baru.html. - See more at: http://kata-renungan-kristen.blogspot.co.id/2013/04/19-kumpulan-ayat-emas-alkitab-perjanjian-lama-perjanjian-baru.html#.Vw3lyvmLTIU