Powered By Blogger

Kamis, 12 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 12 Mei 2016


Kamis, 12 Mei 2016

Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 3-5
Nats: Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. (1 Korintus 6:18)

Tergoda Selingkuh

Bacaan: 1 Korintus 6 

Bagaimanakah perasaan Anda ketika membaca atau mendengar kata "selingkuh"? Marah? Galau? Tidak suka? Terkejut? Biasa-biasa saja? Atau justru penasaran ingin tahu lebih banyak? Dulu orang mungkin risih menyebutnya, sekarang orang sering membicarakan. Perselingkuhan banyak dilakukan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Padahal, sebenarnya "selingkuh" adalah pengganti kata "cabul" dan "zina" yang dibenci Allah.
Rasul Paulus menggambarkan betapa seriusnya dosa percabulan dan perzinaan, yang disejajarkan dengan dosa-dosa yang merintangi pelakunya menjadi bagian dari Kerajaan Allah (ay. 9, 10). Bukan itu saja. Paulus menggambarkan bahwa tubuh kita adalah tempat kediaman Roh Kudus. Allah sendiri yang membelinya dengan harga yang sangat mahal, yaitu dengan pengurbanan Anak-Nya di atas kayu salib. Maka sesungguhnya perzinaan adalah penghinaan besar terhadap Allah. Percabulan juga mencemari tubuh kita sendiri yang mulia, yang telah disucikan, dan yang telah menjadi milik-Nya. Yang lebih penting lagi: suatu ketika nanti, tubuh kita ini akan dibangkitkan kembali oleh kuasa-Nya.
Peringatan Rasul Paulus sangatlah perlu kita simak. Kita yang mulai tergoda melakukan perselingkuhan perlu waspada untuk menjaga kekudusan dengan memperhatikan peringatan ini. Yang sudah terjatuh wajib segera memohon pengampunan dan pengudusan kembali, lalu bangkit kembali dengan tekad yang baru. Kita hanya boleh menggunakan tubuh kita untuk memuliakan Allah (ay. 20). --Heman Elia/Renungan Harian
PERSELINGKUHAN BUKANLAH DOSA YANG BIASA SAJA,
MELAINKAN PENCEMARAN TUBUH DAN PENISTAAN TERHADAP TUHAN.
http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160512

Renungan Harian Edisi : 11 Mei 2016


Rabu, 11 Mei 2016

Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 1-2
Nats: Sebab adalah anugerah jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. (1 Petrus 2:19)

Anugerah Suka-Duka

Bacaan: 1 Petrus 2:18-25

Dokter Lo Siaw Ging sempat menjadi pembicaraan hangat di media sosial. Dokter tua yang harus menggunakan tongkat untuk berjalan ini tinggal di Solo. Rumahnya selalu ramai oleh pasien. Ia hidup sederhana, tak pernah memasang tarif pengobatan, peduli dengan kemampuan finansial pasien, dan, tak main-main, ia mau menanggung biaya enam hingga delapan juta rupiah per bulan untuk menebus obat pasien. Pernah ada pasien marah dan tersinggung karena tak dikenai tarif, namun ia tetap bertahan melayaninya. Prinsipnya, menjadi dokter adalah pekerjaan mulia, dan bukan sarana untuk menjadi kaya.
Petrus mengatakan bahwa menanggung penderitaan secara sadar karena melayani Kristus adalah kasih karunia (ay. 19). Yesus sendiri memberi teladan dalam menanggung penderitaan agar para pengikut-Nya menyadari panggilan untuk menderita bagi pemberitaan Injil Kristus (ay. 24).
Dunia menilai hamba Tuhan identik dengan gaya hidup minimalis, serbasederhana dalam sandang, pangan, dan papan. Tak semua orang mau menjadi hamba Tuhan karena konsekuensi itu. Mengikuti Kristus berarti secara sadar menyerahkan hidup bagiNya dan tahu siapa yang memelihara hidupnya (ay. 25). Memang tak selalu mulus, hanya harus diingat bahwa susah ataupun senang yang ditanggung pelayan Kristus adalah kasih karunia semata. Tak ada motivasi lain yang lebih besar untuk tetap setia melayani-Nya, kecuali kasih Kristus itu sendiri. --Ari Tyas Susanti/Renungan Harian
SUKA-DUKA SAAT MELAYANI TUHAN ADALAH KASIH KARUNIA SEMATA.
 http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160511

Renungan Harian Edisi : 10 Mei 2016


Selasa, 10 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 24-25
Nats: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada a (Matius 28:19-20)

Siaga 24 jam

Bacaan: 2 Timotius 4:1-5 

Pekerjaan di bidang kesehatan adalah profesi yang berat. Di tempat saya bekerja, seorang dokter harus siap siaga selama 24 jam. Bagaimanapun kondisi saat itu, baik sedang makan, minum, atau lelah, seorang dokter harus memberikan kualitas pelayanan yang optimal. Mengapa? Karena nyawa pasien tergantung pada tindakan dokter dan perawat, bagaimanapun letihnya kondisi fisik mereka. Bila mereka lengah, nyawa pasien dapat terancam. Ya, mereka harus siap kapan pun waktunya.
Kesiapan yang sama juga diharapkan dari seluruh pengikut Kristus. Dalam suratnya, Paulus berpesan pada Timotius, "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya" (ay. 2a). Entah ketika ada kesempatan, entah ketika situasi pribadi Timotius baik, entah ketika ada pertentangan di jemaat, entah ketika Timotius sedang menderita, ia didorong untuk terus memberitakan kabar baik.
Amanat Agung Allah untuk menjadikan seluruh bangsa murid Kristus berlaku bagi kita semua. Bagaimanapun kondisi kita, baik atau buruk, kita dapat membagikan kasih Kristus pada orang lain. Bayangkan seandainya para dokter dan perawat letih sehingga memilih untuk tidak menolong pasien. Demikian halnya jika kita memilih diam karena kita letih dan tidak mau membagikan kasih Kristus, tentu banyak jiwa yang tidak pernah mendengar tentang Dia. Oleh karena itu, marilah kita siap sedia kapan pun waktunya untuk membagikan kasih Kristus! --Adeline Pasaribu/Renungan Harian
BERITAKANLAH INJIL SETIAP SAAT DAN BILA PERLU GUNAKAN KATA-KATA.
—FRANSISKUS ASISI

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160510

Renungan Harian Edisi : 09 Mei 2016


Senin, 9 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 21-23
Nats: Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

Masih Untung

Bacaan: 1 Tesalonika 5:12-22 

Kakak ipar saya kecelakaan sehingga kaki kanan bawah lutut patah dua bagian. Operasinya menelan biaya sangat besar. Namun, ia bersyukur karena: tabrakan terjadi bukan dalam perjalanan berangkat mengantar anaknya, tapi dalam perjalanan pulang, sehingga anaknya tidak turut mengalami kecelakaan; bukan ia yang menabrak, tapi yang ditabrak; Tuhan meluputkannya dari benturan kepala. Ia kecelakaan dan mengalami kerugian sangat besar, namun merasa masih beruntung, masih ada hal-hal yang patut disyukuri.
Orang lebih mudah mengucap syukur atas situasi baik dan menyenangkan. Sebaliknya pada saat menghadapi situasi buruk dan sulit, manusia sering marah dan mengutuki Tuhan. Hal ini yang dilakukan oleh istri Ayub. Ia menyuruh Ayub mengutuki Tuhan atas hal-hal buruk dan sulit yang menimpanya (Ayb. 2:9). Ayub menjawab, "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam semuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayb. 2:10). Menurut Ayub, orang yang hanya mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk, ia seperti orang gila.
Rasul Paulus menghadapi situasi buruk dan sulit di penjara namun ia mengajarkan jemaat untuk mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus (Ef. 5:20; 1 Tes. 5:18). Mungkin saat ini, Anda sedang mengalami situasi buruk dan sulit, percayalah, pasti Anda masih beruntung--masih ada hal-hal yang patut Anda syukuri. Karena itu, mengucap syukurlah. --Lim Ivenina Natasya/Renungan Harian
MASIH ADA HAL-HAL YANG PATUT DISYUKURI DI BALIK SITUASI BURUK
DAN SULIT YANG KITA ALAMI.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160509

Minggu, 08 Mei 2016

Renungan Harian Edisi 08 Mei 2016


Minggu, 8 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 18-20
Nats: Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wahyu 3:20)

Ketukan Pintu

Bacaan: Wahyu 3:14-22 

Seorang pendeta yang saat ini bertugas di Malang melakukan hal yang belum pernah saya jumpai. Sebelum memulai pelayanannya di sebuah gereja di kota tersebut, ia terlebih dulu meminta diantar para anggota majelis untuk mengunjungi rumah setiap warga jemaat. Ia mengetuk pintu rumah mereka masing-masing dan berbincang dengan keluarga ini. Perlu waktu beberapa hari untuk mengunjungi rumah setiap warga.
Tuhan Yesus menyapa setiap pribadi yang ada di seluruh dunia ini. Sebagai gembala Dia mengetuk setiap hati supaya bersedia mengikuti-Nya. Dia akan membimbing siapa saja yang mau membukakan pintu untuk-Nya menuju jalan yang benar. Dia akan memimpin langkah setiap orang yang mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat menuju kehidupan kekal.
Tuhan Yesus pun mengetuk pintu hati kita. Ketika kita mau membukakannya, kita menerima Dia menjadi gembala atas hidup kita. Tetapi, bisa jadi saat ini hingar-bingar dunia membuat kita jauh dari jalan yang dikehendaki-Nya. Kita terlalu sibuk meraih segala pencapaian duniawi yang memuaskan kedagingan kita. Kegaduhan dunia sering membuat kita tidak mendengar saat Kristus mengajak kita menikmati persekutuan dengan-Nya.
Dia terus-menerus menyapa kita, mengingatkan kita tentang jalan yang seharusnya kita tempuh. Dia tidak mau kita tersesat. Jika kita telah terlampau jauh "menggelandang", ini saatnya kembali dan menikmati hidangan makan yang sudah disediakan-Nya: hidup selaras dengan kehendak-Nya. --Gigih Dwiananto/Renungan Harian
TUHAN YESUS RINDU BERSEKUTU DENGAN KITA;
APAKAH KITA BERGAIRAH MERESPONS KERINDUAN-NYA?

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160508

Renungan Harian Edisi, 07 MEI 2016

Sabtu, 7 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 16-17
Nats: Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN. (Yunus 2:7)

Perut Ikan

Bacaan: Yunus 2:1-10 

Yunus diombang-ambingkan ombak di lautan kelam ketika mengingkari panggilan Tuhan. Namun, jiwa Yunus, yang lemah dan penuh kekhawatiran selama terhempas gelombang pasang, akhirnya disentuh oleh tangan Tuhan saat ia berada di dalam perut ikan besar yang menelannya hidup-hidup.
Berada di dalam perut ikan menyadarkan Yunus bahwa sekalipun ia telah berbuat dosa dan lari mengingkari panggilan Tuhan (ay. 4), kasih Tuhan, yang lebih besar daripada perut ikan yang menelannya, kembali menjamah dan menyadarkannya akan kesalahan dan dosa yang ia perbuat (ay. 6). Di dalam ruang sempit, ia kemudian menyadari bahwa samudera dan gelombang yang menghampirinya begitu dekat tak mampu mengalangi pengampunan Allah yang membawanya menerima keselamatan (ay. 9).
Ada saat-saat dalam hidup ini ketika kita merasa sedang berada di dalam perut ikan. Situasi yang suram, gelap pekat, sempit untuk berpikir, diiringi aroma tak sedap masalah kita, dan tak ada seorang pun yang akan menolong. Di dalam ‘perut ikan’, kepada siapa kita menaruh pengharapan?
Ingatlah bahwa ketika Yunus berada di tempat yang serupa, ia memilih untuk memanggil nama Tuhan, memohon ampun, dan mensyukuri penyertaan-Nya yang masih tetap sama besarnya. Berada dalam perut ikan mengingatkan Yunus akan kasih Allah yang tiada terukur. Ia mengucap syukur, memohon ampun, dan berjanji untuk melakukan perintah Tuhan. Semoga kita pun demikian. --Yessica Kansil/Renungan Harian
LEBIH BAIK BERADA DI PERUT IKAN BERSAMA TUHAN
DARIPADA BERDIAM DI TEMPAT TENANG SEORANG DIRI.
http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160507

Jumat, 06 Mei 2016

Renungan Harian Edisi 06 Mei 2016


Jumat, 6 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 14-15
Nats: Saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah. (Yakobus 1:19)

Tak Perlu Marah

Bacaan: Yakobus 1:19-27 

Suatu pagi yang indah, saya begitu bersemangat ke kantor. Namun ketika rapat dimulai, mendadak emosi saya mulai tak terkontrol. Hampir semua divisi belum menyelesaikan laporan pertanggungjawaban yang diberikan beberapa waktu lalu. Saat itu, saya pun tanpa sadar melontarkan komentar yang sinis terhadap mereka.
Ketika makan siang tiba, entah kenapa kejadian di rapat muncul kembali di dalam memori. Sejenak saya merenungkan apa yang sudah terjadi. Saya menyesali ucapan saya tadi. Saya mencoba menempatkan diri di posisi mereka. Bagaimana perasaan mereka? Apakah dengan komentar yang sinis tersebut mereka akan belajar dan berkembang? Apakah ke depan nanti mereka akan mempunyai hubungan kerja yang baik dengan saya?
Sebagai seorang atasan, pekerja, teman, orangtua, atau sebagai apa pun kita di lingkungan, mungkin seringkali kita dikecewakan atau, sebaliknya, mengecewakan orang lain. Tetapi, bagaimana respons kita dalam menanggapi setiap persoalan yang ada, itulah kunci dari persoalan tersebut. Apakah kita mudah terpancing? Apakah kita berdiam diri sejenak? Apakah kita bersikap masa bodoh dan tidak peduli? Apakah kita mengabaikan? Atau apakah kita mencari Tuhan?
Firman Tuhan mengingatkan kita agar cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata (ay. 19). Amarah manusia tidak mendatangkan kebenaran dan kebaikan. Tidak perlu marah-marah ketika muncul masalah. Ketika kita tenang dan mampu berpikir jernih, kita relatif lebih mudah menemukan solusi yang tepat. --Selly Miarani/Renungan Harian
KEMARAHAN TAK TERKONTROL BISA MERUSAK HUBUNGAN,
TANPA MENAWARKAN JALAN KELUAR YANG DIPERLUKAN.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160506

Renungan Harian ediisi 05 Mei 2016


Kamis, 5 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 11-13
Nats: Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. (Yohanes 16:14)

Dipimpin Roh Kudus

Bacaan: Yohanes 16:4-15

Tiga tahun murid-murid berjalan, bekerja, dan bercakap-cakap dengan Yesus. Mereka percaya kepada-Nya dan mengasihi-Nya. Kemudian pada suatu malam, Yesus menyampaikan berita yang mengejutkan. Dia akan segera mati. Para murid kecewa dan tawar hati. Tetapi, Yesus berkata bahwa Dia pergi kepada Bapa dan akan datang Penolong lain, yang akan tinggal bersama mereka selama-lamanya dan memberi mereka kuasa untuk bersaksi.
Penolong itu sudah datang, yaitu Roh Kudus. Dia tinggal dan berdiam dalam hati para pengikut-Nya. Hebatnya, Roh Kudus tinggal bersama mereka selama-lamanya dan ditawarkan kepada setiap pribadi. Roh Kudus datang untuk bersaksi tentang Kristus, menginsafkan akan dosa, menuntun pada segala kebenaran, memberikan keberanian, dan hikmat. Melalui kuasa Roh Kudus, kehidupan Kristus, sifat-sifat-Nya, kuasaNya, dan kekuatan-Nya nyata melalui kehidupan seseorang. Setiap orang yang dikuasai Roh Kudus tak akan menjalankan tugasnya dengan kekuatan sendiri atau meniru-niru sifat Kristus. Hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan kata lain, Kristus sendiri menyatakan kehidupan-Nya melalui kehidupan orang itu.
Orang yang dipimpin Roh Kudus pasti hidup mempermuliakan Kristus. Ya, Roh Kudus datang untuk mempermuliakan Kristus. Bersaksi tentang Dia dan menginsafkan dunia akan dosa serta memberitahukan penghakiman atas dunia. Roh Kudus akan memakai kita untuk tugas itu, jika kita mempersilakan Dia memimpin dan menguasai hidup kita. --Piter Randan Bua/Renungan Harian
SEJAK DILAHIRKAN KEMBALI ORANG KRISTEN TELAH DIDIAMI ROH KUDUS,
TETAPI TIDAK SEMUA ORANG KRISTEN DIKUASAI ROH KUDUS. --BILL BRIGHT

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160505

Rabu, 04 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 04 MEI 2016

Rabu, 4 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 9-10
Nats: Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu. (Daniel 3:18)

Berhala Modern

Bacaan: Daniel 3:13-18 

Apa yang menyebabkan Anda sering sekali tidak beribadah kepada Tuhan, baik pada hari Minggu untuk pergi ke gereja atau saat teduh pribadi Anda sendiri? Apa yang menjadi berhala kita untuk tidak datang menyembah Tuhan? Mungkin kesibukan mengurus rumah tangga, pekerjaan yang menumpuk, pasangan kita, uang, atau apa pun bisa menjadi berhala kita.
Berhala umumnya adalah patung-patung yang menyerupai bentuk apa pun (benda mati). Dalam kisah di Perjanjian Lama ini, bentuknya sebuah patung emas dengan tinggi enam puluh hasta (kira-kira 27 meter) dan lebar enam hasta.
Tapi sesungguhnya berhala itu berarti mementingkan sesuatu lebih besar daripada mengutamakan Tuhan. Bukan sekadar patung, tetapi sesuatu yang merintangi kita untuk datang pada Tuhan.
Dalam kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang diperintahkan Raja Nebukadnezar untuk menyembah sebuah patung emas itu, mereka tetap berpegang teguh kepada kebenaran dan tidak berkompromi. Berpegang teguh pada kebenaran berarti kita harus mengenal kebenaran itu. Dan bagaimana kita dapat mengenal kebenaran kalau kita tidak bersekutu dengan Tuhan? Karena apa yang menurut dunia itu benar, belum tentu benar menurut Alkitab. Sementara tidak berkompromi berarti jika ‘iya’ katakanlah ‘iya’ dan jika ‘tidak’ katakanlah ‘tidak’.
Seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang memiliki prinsip untuk tidak menyembah berhala, kita pun kiranya dapat memiliki keteguhan hati yang serupa. --Selly Miarani/Renungan Harian
BERANIKAH BERKATA ‘TIDAK’ UNTUK BERHALA YANG MEMBUAT KITA JAUH DARI TUHAN?

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160504

Selasa, 03 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 03 Mei 2016


Selasa, 3 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 6-8
Nats: Kata-Nya lagi kepada mereka, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu." (Lukas 12:15)

Cicak dan Kadal

Bacaan: Lukas 12:13-21 

Meskipun tidak berakal budi, hewan punya naluri untuk menyelamatkan diri. Contohnya cicak dan kadal. Dalam keadaan terdesak, mereka akan memutuskan ekornya. Ketika perhatian pemangsa lengah akibat ekor yang putus, cicak dan kadal akan segera lari menyelamatkan diri. Jadi, jangan aneh jika melihat cicak atau kadal tanpa ekor. Itu artinya, mereka baru saja luput dari pemangsa. Tidak apa-apa. Setelah sekian lama, ekor yang baru akan tumbuh kembali.
Sayang, perumpamaan yang kita baca hari ini menunjukkan, sekalipun berakal budi--maafkan saya--kadang manusia tidak lebih pintar dari hewan. Ada orang yang berlimpah-limpah hartanya, lalu ia menjadi tamak, dan menggantungkan hidup dari kekayaannya (ay. 15). Tuhan tidak membenci orang kaya. Tuhan juga tidak membenci kekayaan. Namun, di hadapan Tuhan, orang yang tamak dan menggantungkan hidup dari kekayaannya adalah orang bodoh (ay. 20).
Apa pun keadaan kita saat ini, baiklah kita bersikap rendah hati. Gantungkanlah hidup kita sepenuhnya hanya pada Tuhan. Jangan gantungkan hidup pada hal yang lain. Jangan tamak dan bermegah atas segala kekayaan. Ketahuilah, masih banyak hal lain, yang lebih berharga dari segala kekayaan. Kesehatan kita lebih berharga dari kekayaan. Keluarga kita lebih berharga dari kekayaan. Hidup kita lebih berharga dari kekayaan. Dan di atas semuanya itu, Kristus lebih berharga dari segala kekayaan. Selagi mampu, kumpulkanlah harta. Namun, jadilah kaya di hadapan Allah (ay. 21). --Okky Sutanto/Renungan Harian
BANYAK ORANG MENJADI KAYA, NAMUN TIDAK DI HADAPAN ALLAH.
http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160503

Senin, 02 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 02 Mei 2016


Senin, 2 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 4-5
Nats: Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: "Roh Elia telah hinggap pada Elisa." (2 Raja-Raja 2:15)

Tak Pernah Mati

Bacaan: 2 Raja-raja 2:1-18

Kecelakaan mobil merenggut nyawa Lenny Robinson. Pria paruh baya dari Maryland itu dikenal sebagai Batman di kota asalnya. Pasalnya, ia sering melawat dan menghibur anak-anak yang sedang dirawat di rumah sakit dengan mengenakan kostum superhero itu. Sepuluh tahun kebiasaan itu dilakukannya dengan setia. Bagi anak-anak yang pernah dihiburnya, ia tak pernah mati. Selain karena Batman tak pernah mati, juga karena kebaikannya itu terlanjur melekat di hati mereka.
Elia dikenal sebagai nabi yang tak pernah mati. Ia diangkat ke surga disaksikan oleh muridnya, Elisa (ay. 11). Orang-orang yang mencarinya tak pernah menemukannya lagi (ay. 17). Dan yang terutama roh dan wibawanya beralih kepada Elisa (ay. 15). Sepeninggal Elia, Elisa benar-benar mewakili ke hadirannya di dunia. Tak pernah matinya Elia terungkap pula dalam sosok Yohanes Pembaptis yang disebutkan berjalan "dalam roh dan kuasa Elia" (Luk 1:17). Pengaruh yang diberikan Elia selama hidupnya amat besar!
Kita bukan Elia, bukan pula superhero. Kita bisa dan akan mati. Namun, Tuhan menghendaki kita memberikan pengaruh positif yang membekas dalam hati sesama di seputar kehidupan kita. Kerinduan-Nya ialah kita hidup luhur. Subur. Berbuah dan buah itu tetap (Yoh. 15:16) -- tetap membekas di hati siapa saja yang pernah mengecap manisnya. --Pipi A. Dhali/Renungan Harian
JEJAK KEBAIKAN YANG MEMBEKAS DI HATI
AKAN TETAP HIDUP DAN MENJADI SUMBER INSPIRASI.
 http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160502

Minggu, 01 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 1 Mei 2016


Minggu, 1 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 1-3
Nats: Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kolose 3:13)

Mempraktekkan Kasih

Bacaan: Kolose 3:5-17

Dua orang rekan kami bekerja sama memulai bisnis. Karena tergiur keuntungan sesaat, salah satu pihak mengambil semua modal usaha dan kabur ke luar kota. Pihak kedua rugi besar dan harus berurusan dengan para konsumen yang menagih. Teman yang kabur ini akhirnya kembali karena menyadari dosanya dan minta maaf. Kawan yang dirugikan itu nyatanya mau dengan tulus mengampuni kesalahan kawannya. Mereka pun berdamai.
Mengampuni, memaafkan, berbelas kasih, memang enak diucapkan, namun tidak selalu mudah dilakukan. Kalau saat ini kita merasa terlalu sulit mengampuni seseorang karena hal-hal tertentu yang membuat kita mengalami banyak kesusahan, marilah kita melihat cara Tuhan bertindak. Kita sebagai manusia baru diperintahkan untuk mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi. Belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, adalah karakter Allah. Sebagai manusia baru, tentunya berbagai karakter Allah ini harus kita miliki. Kalau Tuhan mau mengampuni segala dosa kita, tentu saja kita sendiri harus belajar mengampuni. Kalau Tuhan tidak menyimpan dendam, kita tidak menyimpan dendam.
Jika kita belajar bertindak seperti prinsip Allah, tidak ada istilah sulit atau terlalu berat untuk mengampuni seseorang. Marilah kita belajar rendah hati dan merasakan kasih Tuhan dalam hidup kita sebelum mengampuni seseorang. Maka, saat kita mengucapkan "Aku memaafkanmu" atau "Aku mengampunimu, " kata-kata itu benar-benar keluar dari lubuk hati yang terdalam dan tulus. --Richard Tri Gunadi/Renungan Harian
KETIKA KITA MENGAMPUNI SESAMA, KITA MENGENAKAN KARAKTER TUHAN.
 http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160501

Sabtu, 30 April 2016

Renungan Harian Edisi 30 April 2016


Sabtu, 30 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 21-22
Nats: Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2 Timotius 3:16)

Membaca Surat Cinta-Nya

Bacaan: 2 Timotius 3:10-17

Seorang ayah yang kaya pada saat anaknya berulang tahun menghadiahkan sebuah Alkitab dalam tas kulit. Meskipun sang ayah berharap anaknya senang menerima hadiah itu, ternyata si anak berharap akan mendapatkan hadiah mobil. Karena kecewa, anak itu bahkan tidak membuka tas Alkitab itu dan langsung menyimpannya begitu saja. Ia tidak tahu bahwa di dalam Alkitab terselip kunci mobil dari ayahnya. Setelah ayahnya menjelaskan, baru ia sadar.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, seberapa banyak kita membaca Alkitab? Jangan-jangan kita--seperti pemuda tadi--hanya menyimpannya. Seberapa sering kita merenungkan kembali dan memperhatikan firman-Nya di tengah aktivitas yang kita lakukan? Atau, kita hanya membawa Alkitab ketika hendak pergi ke gereja? Kalau begitu, bagaimana kita dapat mengetahui rencana dan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita jika kita jarang berinteraksi dengan firman-Nya?
Memang benar, ketika membaca Alkitab, kita tidak akan menemukan kunci mobil atau kunci rumah seperti dalam Alkitab pemberian ayah kaya tadi. Namun, Alkitab mengandung pesan dan surat cinta dari Tuhan kepada kita, anak-anak kesayangan-Nya. Tuhan ingin kita mengerti kehendak-Nya, kebajikan yang di siapkannya bagi hidup kita. Melalui Kitab Suci, Dia mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran (ay. 16). Karena itu, marilah membuka hati dan hidup kita, untuk memberikan tempat yang sepatutnya bagi firman-Nya, agar kehidupan kita diubahkan menurut kebenaran-Nya. --Priskila Silvia Aprilita/Renungan Harian
Tuhan menyampaikan firman-Nya untuk mengungkapkan kasih-Nya
dan menuntun hidup kita menurut kebenaran-Nya.
 http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160430

Jumat, 29 April 2016

Renungan Harian Edisi 29 April 2016


Jumat, 29 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 19-20
Nats: Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku. (1 Raja-raja 19:4)

Hikikomori

Bacaan: 1 Raja-raja 19:1-18 

Hikikomori adalah istilah bahasa Jepang untuk menggambarkan orang yang suka menyendiri, menjauhi kehidupan sosial. Mereka mengurung diri di kamar selama beberapa waktu, bahkan sampai bertahun-tahun. Mereka melakukannya karena tidak tahan menanggung tekanan hidup. Mereka stres dan depresi.
Tekanan hidup dialami oleh semua orang, tanpa pandang bulu. Elia juga pernah mengalami beratnya tekanan. Ia meminta Tuhan untuk mengambil nyawanya (ay. 4) dan merasa sendirian (ay.10, 14). Itu tanda bahwa Elia depresi. Mengapa? Harapannya untuk membuat orang meninggalkan penyembahan berhala--setelah ia memusnahkan 450 nabi Baal dan 400 nabi Asyera--tidak membuahkan hasil. Raja dan rakyat Israel tidak juga berbalik kepada Tuhan (ay. 1). Ia merasa gagal. Ditambah lagi, Izebel bersumpah hendak membunuhnya (ay. 2).
Tuhan tidak meninggalkan Elia yang terpuruk. Tuhan memperhatikan kebutuhan jasmani Elia (ay. 5-8). Sesuatu yang tampak sepele, namun begitu penting bagi Elia. Tuhan lalu menyadarkan Elia atas tanggung jawab yang Elia emban dengan bertanya, "Apakah kerjamu di sini? (ay. 9, 13). Tuhan juga memberikan tanggung jawab baru kepada Elia untuk mengurapi beberapa orang pilihan Tuhan (ay. 15). Akhirnya, Tuhan menunjukkan pada Elia bahwa pelayanannya selama ini tidaklah sia-sia karena masih ada tujuh ribu orang Israel yang tidak menyembah berhala (ay. 18).
Jika saat ini kita mengalami tekanan, stres, bahkan depresi, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. --Sugihendarto Pratama P./Renungan Harian
Janganlah mempraktikkan hikikomori; Tuhan selalu menemani kita.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160429

Kamis, 28 April 2016

renungan harian edisi 28 april 2016


Kamis, 28 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 16-18
Nats: Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: "Kami siap untuk membangun!" Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu. (Nehemia 2:18)

Mengatasi Persoalan

Bacaan: Nehemia 2:11-20 

Sebagian orang, ketika persoalan datang, menjadi panik, tidak fokus, atau malah menyepelekan dan menunda penyelesaiannya. Padahal, persoalan tidak bakal selesai dengan sendirinya. Perlu dihadapi dan diatasi.
Nehemia menunjukkan dua masalah utama bangsa Yehuda. Pertama, ketiadaan tembok, yang berarti ketiadaan perlindungan, pertahanan, dan identitas sebagai bangsa. Kedua, ada kemungkinan, bangsa itu tidak tahu mereka sedang bermasalah (ay. 17). Nehemia harus menjelaskannya kepada mereka. Ia telah terlebih dahulu menganalisis strategi untuk membangun kembali tembok Yerusalem (ay. 12-15). Dengan ditemani beberapa orang, ia mengidentifikasi masalah yang ada. Setelah itu, ia menyadarkan bangsanya akan masalah itu dan memotivasi mereka untuk turut memikirkan pembangunan kembali tembok kota. Pembangunan itu diperlukan agar mereka tidak dicela lagi oleh bangsa asing. Nehemia membangkitkan semangat mereka dengan menunjukkan "betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku." Dan, ia berhasil.
Kita tidak mungkin hidup tanpa masalah. Besar-kecil, berat-ringan, masalah akan selalu ada. Kita dapat belajar dari cara Nehemia mengatasi persoalan, yaitu dengan tidak menunda-nunda proses penyelesaiannya. Kita menganalisis masalah dan memotivasi diri untuk menyelesaikannya. Dan, yang paling utama, kita bersandar pada kuasa Allah. Jadi, jangan mengabaikan masalah atau lari dari masalah, namun hadapilah dengan penyertaan dan perlindunganNya. --Adama Sihite/Renungan Harian
Analisis yang kuat menghadapi persoalan itu baik,
mengandalkan kekuatan Tuhan itu lebih baik.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160428

Rabu, 27 April 2016

Renungan Harian Edisi : 27 April 2016

Rabu, 27 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 14-15
Nats: Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. (Kolose 3:8)

Jangan Simpan Sampah

Bacaan: Kolose 3:5-17 

Di lingkungan tempat tinggal saya, truk pengangkut sampah tidak datang setiap hari, tetapi dua kali dalam seminggu, setiap Senin dan Kamis. Namun, setiap pagi saya membuang sampah rumah ke tempat sampah besar di depan rumah, sebelum nanti diangkut truk sampah menurut jadwal. Pernah, Lala, putri sulung kami, bertanya, mengapa setiap pagi saya repot-repot membuang sampah itu, padahal truk sampah tidak akan datang mengambilnya. Jawaban saya sederhana: Karena saya tidak nyaman menyimpan sampah di dalam rumah.
Tidak ada orang yang nyaman menyimpan sampah di dalam rumah. Namun, bagaimana dengan sampah rohani? Faktanya, banyak orang nyaman-nyaman saja menyimpan sampah rohani dalam hidup mereka. Coba kita tilik cara hidup kita masing-masing. Masihkah kita menyimpan sampah rohani? Segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan juga keserakahan dalam diri kita (ay. 5)? Masihkah kita menyimpan kemarahan, geram, kejahatan, fitnah dan segala perkataan kotor yang keluar dari mulut kita (ay. 8)?
Memang bukan perkara mudah untuk menjaga hidup kita bersih dari sampah rohani. Namun, kita telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. Kita telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui (ay. 9-10). Sebagai orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, baiklah kita membuang sampah rohani itu, lalu mengenakan segala kebajikan (ay. 12-17). Memang bukan perkara mudah, tapi kita pasti dimampukan jika kita mengandalkan Roh Kudus. --Okky Sutanto/Renungan Harian
Jagalah kebersihan, baik secara jasmani maupun rohani.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160427

Selasa, 26 April 2016

Renungan Harian Edisi : 26 April 2016


Selasa, 26 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 12-13
Nats: Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. (Amsal 3:27)

Seperti Jarak Berkilo-kilo

Bacaan: Lukas 16:19-31

Kath tidak boleh ikut duduk di sekeliling meja makan. Tempatnya berada dekat pintu. Makanan untuk dirinya sudah ditentukan di atas piring. Ia seorang pembantu rumah tangga yang tidak memiliki sanak saudara. Pada zaman itu orang miskin memang dibiarkan begitu saja. Sikap tidak peduli terhadap nasib atau penderitaan orang lain dianggap lumrah. Demikian tulis Max Bauer, seorang buruh tani Jerman, dalam autobiografinya.
Ketidakpedulian semacam itu juga menimpa Lazarus si miskin. Ia berbaring di dekat pintu rumah seorang yang kaya (ay. 20). Ia kelaparan, dan ingin sekali menghilangkan laparnya itu dengan makanan yang jatuh dari meja si orang kaya (ay. 21). Tetapi, tidak ada sedikit pun makanan yang jatuh. Semuanya tetap berada di atas meja, jauh dari jangkauan Lazarus.
Meskipun seorang pengemis, Lazarus tidak merintih meminta seiris roti atau setetes air. Ia pasrah mengharapkan kemurahan hati si orang kaya. Namun, si kaya rupanya tidak peduli. Jarak antara meja dan tempat Lazarus berbaring seperti berkilo-kilo meter. Dan, Lazarus menanggung sampai mati (ay. 22). Dan, jarak lalu terbentang sebagai jurang tak terseberangi antara pangkuan Abraham dan tempat orang kaya itu tersiksa dalam nyala api (ay. 26).
Bagaimanakah dengan hidup kita? Jika kita memiliki kemampuan untuk menolong dan menyantuni sesama yang miskin dan menderita, apakah kita malah tidak peduli? Apakah kita memilih membentangkan jarak berkilo-kilo meter jauhnya? --Nugie Stine/Renungan Harian
Jika kita bersedia, menolong orang lain bukanlah seperti
menyeberangi jurang yang berjarak berkilo-kilo meter.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160426

Senin, 25 April 2016

Renungan Harian Edisi : 25 April 2016


Senin, 25 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 9-11
Nats: Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun (Ulangan 6:7)

Lihat Bapaknya

Bacaan: Ulangan 6:1-25 

Seorang anak ketahuan sedang mencuri mangga tetangga. Tetangga sangat marah dan berkata, "Awas, ya! Kamu masih kecil sudah berani mencuri. Akan saya laporkan kepada bapakmu supaya kamu dihajar." Tiba-tiba si anak menengok ke atas pohon dan berteriak, "Pak, Bapak, cepat turun, kita ketahuan!"
Humor itu mengingatkan saya pada pepatah lama: air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Pada umumnya sifat seorang anak mengikuti teladan orangtuanya.
Tuhan memerintahkan bangsa Israel mengajarkan firman-Nya kepada anak-anak mereka berulang-ulang dengan membicarakannya saat duduk di rumah, saat dalam perjalanan, saat berbaring dan bangun. Pada setiap kesempatan orangtua di dorong terus menerus mengajarkan firman kepada anak-anak (ay. 7). Tentu Tuhan punya alasan kuat tentang perlunya mengajarkan firman kepada anak sejak kecil. Firman Tuhan dipercaya sebagai sumber norma atau nilai utama yang akan membentuk karakter anak.
Rasul Paulus pun mengingatkan para bapak di jemaat Efesus, agar tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka. Sebaliknya, mereka perlu mendidik anak-anak itu di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Ef. 6:4).
Karena itu, jangan terburu-buru menyalahkan anak dan mengeluh melihat tingkah anak kita. Kita dapat berintrospeksi, apakah ajaran dan contoh hidup kita di depan anak-anak sudah selaras dengan firman-Nya? Berdoalah agar mereka diubahkan melalui ajaran dan contoh tersebut. --Lim Ivenina Natasya/Renungan Harian
Ajaran yang disertai dengan contoh hidup
akan melekat kuat dan berkesan pada anak-anak.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160425

Minggu, 24 April 2016

Renungan Harian Edisi : 24 April 2016


Minggu, 24 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 8
Nats: Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. (Markus 6:26)

Obral Janji?

Bacaan: Markus 6:14-29 

Kegembiraan atau kesedihan yang tidak terkontrol bisa membuat pikiran kita menjadi labil. Saat gembira, orang mengobral janji tanpa berpikir panjang apakah bisa memenuhinya atau tidak. Saat sedih, orang juga mengobral janji muluk-muluk asal harapannya dapat menjadi kenyataan. Celakanya, obral janji seperti itu dapat berbuah malapetaka. Saat pikiran mulai jernih kembali, muncullah perasaan sedih, menyesal, dan tidak rela memberikan hal-hal yang sudah dijanjikannya.
Hati Herodes sedang diliputi kegembiraan. Hatinya begitu terbuai oleh liukan gemulai putri tiri yang menari pada perayaan hari ulang tahunnya. Tanpa pikir panjang, ia mengobral janji--bahkan ia mengucapkannya dengan bersumpah--akan memberikan apa saja yang diminta putrinya itu. Ini berarti bahwa Herodes harus bersiap-siap untuk memberikan sesuatu yang mungkin bukan miliknya. Dan benar saja--betapa tersentak hati Herodes saat ia mendengar putrinya itu meminta kepala Yohanes di sebuah talam! Herodes tak bisa mengelak. Obral janji yang dibuatnya itu justru berbuah malapetaka bagi dirinya dan juga bagi orang lain.
Janji adalah utang! Jika janji sudah terucap, kita harus menepatinya. Karena itu, kita memerlukan hati yang tenang dan pikiran yang jernih sebelum mengucapkan janji. Akan lebih bijaksana jika kita tidak mengobral janji sehingga kita dapat melewati hari demi hari dengan tenteram, bukannya dikejar-kejar oleh janji yang sebenarnya kita tidak sanggup memenuhinya. --Samuel Yudi Susanto/Renungan Harian
Janji yang terucap tanpa berpikir panjang justru dapat mendatangkan malapetaka.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160424

Sabtu, 23 April 2016

Renungan Harian Edisi : 23 April 2016


Sabtu, 23 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 5-7
Nats: Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini." (Matius 9:30)

Gaduh

Bacaan: Matius 9:27-31 

Gaduh itu gempar, heboh, ribut. Lazimnya, kegaduhan tidak mewakili kenyataan yang sebenarnya. Ada kabar yang direkayasa, berita yang diplintir, atau pesan yang disimpangkan. Kucing diceritakan bak seekor harimau, ikan tuna diberitakan sebagai hiu ganas, dan belut dihebohkan sebagai bayi ular piton. Kegaduhan itu menelikung fakta, peristiwa atau keadaan sebenarnya. Kata Mark Twain, kegaduhan seperti induk ayam yang baru saja bertelur, lalu berkotek seolah telah menelurkan sebuah asteroid.
Setiap kali Tuhan Yesus menyembuhkan, menahirkan, ataupun membangkitkan orang mati, kita sering membaca pesan-Nya agar tidak memberitakan mukjizat-Nya itu--"Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini." Pesan itu bukan larangan mewartakan Kabar Baik. Yesus hanya ingin perbuatan-Nya yang ajaib itu tidak menyulut kegaduhan. Pesan itu juga mengajarkan kita untuk melakukan perkara-perkara besar bagi Tuhan, dan bukan sekadar berbicara tentang perkara-perkara ilahi saja. Para rasul juga dikenal karena perbuatan dan tindakan mereka, bukan karena mereka pandai berdalih atau terampil berorasi.
Tuhan Yesus tahu bahwa kegaduhan tidak menghasilkan apa pun, hampa belaka. Mengumbar bicara tanpa tindakan hanyalah kegaduhan, tidak ada hasilnya. Ketika Tuhan Yesus berpesan, "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini", Ia telah melakukan perkara yang besar bagi Allah Bapa. Bagaimana dengan kita, masihkah kegaduhan itu memesona? Percayalah, kegaduhan itu kehampaan belaka, segeralah menjauh darinya! --Agus Santosa/Renungan Harian
Tidak ada sesuatu pun yang datang dari kehampaan. --Shakespeare

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160423

Jumat, 22 April 2016

Renungan Harian Edisi : 22 April 2016

Jumat, 22 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 2:26-4
Nats: Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (Matius 6:21)

Gaji Terlalu Banyak

Bacaan: Matius 6:19-24 

John MacArthur, pendeta dan penulis buku-buku pendalaman Alkitab, menceritakan pengalamannya tentang gaji. Grace Community Church, gereja tempatnya melayani, memberinya gaji besar sekali. "Terlalu banyak, " katanya. "Mengapa kalian menggaji saya sedemikian besar?"
Seorang penatua menjawabnya, "Karena kami ingin tahu apa yang akan Anda lakukan dengan apa yang tidak Anda perlukan."
Uang tampaknya merupakan sebuah bahan ujian yang sangat baik bagi karakter kita. Seperti tersirat dalam pernyataan Tuhan Yesus, persoalannya bukan terletak pada berapa banyak uang yang kita miliki; persoalannya adalah di manakah hati kita berada. Sikap hati dan fokus hidup kita dapat terpancar dari cara kita mengelola uang.
Sebagian orang mungkin akan berdiam diri jika berada dalam posisi John MacArthur. "Toh itu berkat yang sudah menjadi bagian saya, " pikirnya. Jarang kita melihat perlunya kesesuaian antara hak dan kewajiban. Kita juga perlu belajar menguasai diri, memahami batas antara kebutuhan dan keserakahan. Orang yang serakah akan menggunakan tipu daya atau menempuh cara yang tidak patut demi menambah tebal dompetnya.
Marilah kita bersama-sama memeriksa hati kita. Apakah kita mengumpulkan uang karena hendak memuaskan keinginan pribadi? Ataukah kita menggunakan uang untuk memuliakan Allah dengan memberkati kehidupan orang-orang di sekitar kita dan memajukan Kerajaan-Nya? Kiranya hati kita tertuju pada perkara yang benar: mengumpulkan harta surgawi, bukan memburu harta duniawi. --Arie Saptaji/Renungan Harian
Orang yang bijak tidak membiarkan dirinya diperhamba oleh uang,
melainkan mendayagunakan uang sebagai hambanya.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160422

Kamis, 21 April 2016

Renungan Harian Edisi : 21 April 2016

Kamis, 21 April 2016

Bacaan Setahun: 1 Raja-Raja 1-2:25
Nats: Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat. (Lukas 15:10)

Membela Kelompok Minoritas

Bacaan: Lukas 15:8-10 

Berdasarkan Deklarasi PBB 1948, salah satu indikator suksesnya proses implementasi perlindungan hak asasi manusia di sebuah negara adalah kemampuan pemerintah dalam melindungi golongan minoritas. Yang sering terjadi, suara mayoritas mendorong negara melakukan ketidakadilan terhadap kelompok minoritas.
Ayat bacaan hari ini sangat menarik jika dihubungkan dengan kondisi di atas. Di situ ada dua golongan. Pertama, golongan mayoritas, yaitu orang-orang yang telah selamat. Kedua, golongan minoritas, yaitu orang-orang berdosa. Perumpamaan itu menunjukkan pesan ke berpihakan yang sangat jelas. Perempuan itu mencari satu dirhamnya yang hilang dan bersukacita ketika ia menemukannya. Yesus menambahkan bahwa malaikat di surga pun bersukacita. Keselamatan satu jiwa sungguh berharga.
Pesan keselamatan dalam ajaran kekristenan bukan hanya ditujukan bagi golongan mayoritas atau orang-orang yang sudah ada di dalam gereja. Sebaliknya, Yesus Kristus mendorong gereja untuk menjangkau mereka yang tersisih dan berdosa. Berkali-kali Yesus mengajarkan pada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mengundang orang-orang itu masuk ke dalam pesta perjamuan makan-Nya. Jadi, sebagai seorang beriman kita harus mampu merefleksikan ajaran Yesus ini. Kita semestinya termotivasi untuk melakukan pembelaan bagi orang miskin, lemah, atau kelompok minoritas. Itulah salah satu panggilan penting bagi kita orang percaya. --Tatag Triyahyo Adi/Renungan Harian
Kelompok mayoritas seharusnya tidak menindas kelompok minoritas,
melainkan menjangkau, melayani, dan melindungi mereka.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160421

Rabu, 20 April 2016

Kasih Tuhan Tak Terbatas Untuk Kita







Renungan Harian Edisi 20 April 2016


Rabu, 20 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 23-24 
Nats: Tetapi aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepada-Mu; mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya. (Mazmur 71:14-15)


Harapan yang Pasti


Bacaan: Mazmur 71:1-24 
Mengawali musim tanam, para petani disibukkan dengan pekerjaan mempersiapkan lahan agar siap ditanami benih padi. Perlu tenaga dan biaya yang besar. Namun, kesulitan ini tidak merintangi para petani untuk melakukan pekerjaan mereka dengan tekun. Mereka memiliki impian dan harapan yang besar: ketika musim panen tiba mereka akan menerima imbalan yang setimpal dari kerja keras yang telah dilakukan.
Pemazmur mengawali doa dengan pengakuan akan segala keterbatasan yang dimilikinya. Sebagai mahluk yang serba terbatas, ia membutuhkan Tuhan yang tidak terbatas, agar mampu menjalani setiap proses kehidupan dengan baik. Pemazmur dengan sepenuh hati meyakini keberadaan Tuhan yang maha pengasih dan penuh keadilan.
Pemazmur kembali menekankan perlunya memiliki harapan tentang masa yang akan datang. Harapan yang bisa dijadikan tumpuan, agar bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Tuhan merupakan harapan yang pasti. Dia akan memberikan perlindungan kepada semua umat yang dikasihi-Nya. Dia juga akan menuntun umat-Nya berjalan dalam kemenangan.
Menjalani kehidupan ini akan lebih indah ketika kita meletakkan pengharapan hanya kepada Tuhan. Bersama dengan Tuhan, kita dimampukan menjalani setiap proses kehidupan dengan baik, sesuai dengan rencana-Nya dalam kehidupan kita. Untuk itu, jangan pernah berhenti berharap. Tuhan adalah sumber dan tempat pengharapan kita. Dia akan memberikan yang terbaik pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang. --Wahyu Barmanto/Renungan Harian
Berharaplah hanya kepada Tuhan yang senantiasa
memberikan perlindungan dan pertolongan tepat pada waktunya.

 sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160420





Selasa, 19 April 2016

Renungan Harian Edisi 19 April 2016

Selasa, 19 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 21-22 
Nats: Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. (Kolose 1:15)


Pak Karyo Ditinggal



Bacaan: Kolose 1:15-23 
Ada seorang guru di Kendal yang memasuki masa pensiun, sebut saja namanya Pak Karyo. Sebagai penghargaan untuknya, sekolah mengadakan acara perpisahan di Yogya. Rombongan para guru beserta Pak Karyo pun berangkat ke Yogya. Seharian mereka berkunjung ke beberapa tempat wisata di kota itu dan berakhir di Jalan Malioboro. Di situ rombongan berpencar, sibuk dengan urusan dan tujuan masing-masing. Pada waktu yang ditentukan, rombongan kembali ke bus dan segera bergerak pulang ke Kendal.
Sesampai di daerah Muntilan, kira-kira 20 km dari Yogya, para rekan guru yang kecapekan itu teringat akan Pak Karyo. Mereka mencarinya, dan ternyata Pak Karyo tidak ada di dalam bus! Gemparlah seluruh isi bus dan serentak mereka meminta pak sopir untuk berbalik arah ke Malioboro.
Tuhan Yesus, dalam bacaan hari ini, adalah pokok dari segala sesuatu. Dia adalah yang utama dari segala yang diciptakan (ay. 15). Dialah yang semestinya menjadi pusat hidup orang percaya. Namun, yang sering terjadi, Tuhan Yesus malah ditinggalkan di belakang. Bukannya hidup untuk menyenangkan hati-Nya, kita sibuk mengejar kesenangan dan kepentingan kita masing-masing.
Mungkin kita dapat membandingkannya dengan pelayanan yang kita jalani. Apakah kita benar-benar melakukannya untuk menyenangkan hati Tuhan, atau mengejar kepentingan pribadi? Tak jarang, suatu acara pelayanan malah berakhir dengan perselisihan, kekecewaan, dan kemarahan. Karena itu, penting menjadikan Dia pusat hidup kita. --Edy Santoso/Renungan Harian
Ketika kita menempatkan Yesus sebagai pusat kehidupan, 
kita akan melepaskan keegoisan dan melayani satu sama lain.

sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160419

Senin, 18 April 2016

Renungan Harian Edisi 18 April 2016


Senin, 18 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 19-20 
Nats: Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" (Keluaran 3:3)


Panggilan Hati



Bacaan: Keluaran 2:23-3:12 
Kendati menggelandang akibat kediktatoran militer di negerinya, Brazil, Raimundo Arruda Sobrinho tetap melakukan kegemarannya: menulis puisi. Setiap hari selama tiga puluh lima tahun. Kebiasaannya yang janggal itu memantik minat dan niat Shalla Monteiro untuk menolong gelandangan tua itu. Lewat akun fesbuk yang ditanggapi khalayak, kehidupan Raimundo berubah. Kini, pada usia ke-77, karya-karya tulisnya diterbitkan dan digemari orang.
Panggilan hati Musa ialah membela yang lemah. Budak Israel yang dianiaya orang Mesir dibelanya (2:11-12). Anak-anak gadis Yitro yang diusir para gembala dibelanya (2:16-17). Hanya, pelariannya dari kejaran Firaun mengubah total kehidupannya. Dari seorang pangeran menjadi seorang gembala ternak. Setelah empat puluh tahun, masihkah panggilan hati itu menyala di hatinya? Simaklah kisah semak duri yang menyala. Tuhan menanam panggilan di hati Musa, kehidupan sekeras apa pun tak sanggup "membakar"-nya. Dorongan hati itu tetap "menyala" dan siap dipakai Tuhan pada waktu-Nya.
Adakah dorongan yang terus menyala di hati Anda untuk berbuat sesuatu? Melukis? Menulis? Melanjutkan studi? Membuka usaha sendiri? Merintis kegiatan sosial? Jangan lekas menyerah. Jika Tuhan "menyalakannya", tiada yang mampu memadamkannya. Usia bukan alangan. Ayo, mulailah melangkah. Tekunilah. Waktu-Nya bukan waktu kita. Anda tak akan pernah terlampau tua untuk memenuhi sebuah panggilan hati. --Pipi A. Dhali/Renungan Harian
Panggilan hati yang dari Tuhan
tak akan musnah dibakar oleh waktu dan kesukaran.

sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160418

Minggu, 17 April 2016

Renungan Harian Edisi 17 April 2016

Minggu, 17 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 17-18 
Nats: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)


Sekadar Ibadah



Bacaan: Matius 11:25-30 
Banyak orang Kristen beribadah dengan harapan ibadah itu dapat menyelesaikan masalah dan pergumulan hidup yang mereka alami. Tak salah memang. Namun, faktanya sering berbeda dari harapan, dan banyak orang tidak menyadarinya. Mereka menjadi kecewa, lalu berhenti beribadah karena, setelah sekian lama beribadah, masalah dan pergumulan hidup itu tak kunjung beres.
Bukan berarti kita memandang remeh ibadah atau menganggap ibadah itu tidak perlu. Firman-Nya mengingatkan kita untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah kita (Ibr. 10:25). Namun, perlu diingat, ibadah adalah langkah awal untuk kita terbebas dari masalah dan pergumulan hidup. Ibadah bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhirnya tidak lain bertemu dengan Yesus. Untuk apa? Yesus yang berjanji, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (ay. 28). Dengan kata lain, yang akan menyelesaikan masalah dan pergumulan hidup kita bukanlah ibadah itu sendiri, melainkan perjumpaan dengan Yesus.
Bandingkan dengan orang sakit. Pergi ke rumah sakit tidak membuatnya jadi sembuh. Untuk sembuh, ia harus bertemu dengan dokter, mengizinkan dokter memeriksanya, meminum obat secara teratur, dan mengikuti saran dokter. Kiranya kita pun tidak sekadar beribadah. Sebaliknya, kita sungguh-sungguh bertemu dengan Yesus, Sang Pemilik Ibadah. Mengizinkan Dia memeriksa hidup kita, lalu hidup seturut dengan kehendak dan rencana-Nya. Dan, pada waktu-Nya, masalah dan pergumulan hidup kita akan teratasi. --Okky Sutanto/Renungan Harian
Banyak orang pergi beribadah, 
namun tidak semua orang bertemu Sang Pemilik Ibadah.

sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160417

Sabtu, 16 April 2016

Renungan Harian Edisi 16 April 2016

Sabtu, 16 April 2016 

Bacaan Setahun: 2 Samuel 15-16 
Nats: Janganlah menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil (Yohanes 7:24)


Awas Keliru Menilai!


Bacaan: Yohanes 7:14-24 
Sore itu suasana hening di sebuah kereta api bawah tanah tiba-tiba terganggu oleh ulah dua bocah. Mereka mengganggu penumpang lain. Si kecil menarik-narik koran yang sedang dibaca seorang penumpang, kadang merebut pena penumpang lain. Kakaknya berlari dan menabrak kaki penumpang yang berdiri karena gerbong itu penuh. Beberapa penumpang mulai terganggu dan menegur bapak kedua anak.
Bapak itu menenangkan kedua anaknya. Suasana kembali hening. Namun, tak lama, keduanya mulai bertingkah lagi. Malah semakin nakal. Si bapak kembali menenangkan mereka. Kejadian itu berulang beberapa kali sampai beberapa penumpang marah, mem bentak bapak itu.
Akhirnya bapak itu memohon maaf dan menjelaskan. "Tidak biasanya mereka bertingkah nakal seperti itu. Tadi pagi, kedua anak ini baru saja ditinggal oleh ibu yang sangat mereka cintai. Ia meninggal karena penyakit leukimia." Para penumpang di gerbong itu pun terdiam.
Kita sering menghakimi orang berdasarkan apa yang tampak menurut ukuran manusia sehingga penghakiman kita keliru (ay. 24). Tuhan Yesus mengajarkan agar kita menghakimi dengan adil. Salah satunya, dengan berhati-hati tidak langsung menjatuhkan penghakiman, namun berusaha memahami terlebih dahulu latar belakang perbuatan seseorang. Kita bukan hanya melihat buah atau perbuatannya, melainkan memahami pula akar atau motivasinya. Dengan begitu, kita dapat merespons persoalan itu dengan tepat. Bukannya menghakimi, kemungkinan besar kita malah akan berbelaskasihan. --Lim Ivenina Natasya/Renungan Harian
Kenali terlebih dahulu hal yang melatarbelakangi tindakan seseorang, 
agar kita tidak keliru menilai dan menanggapinya.


 sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160416