Powered By Blogger

Kamis, 12 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 12 Mei 2016


Kamis, 12 Mei 2016

Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 3-5
Nats: Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. (1 Korintus 6:18)

Tergoda Selingkuh

Bacaan: 1 Korintus 6 

Bagaimanakah perasaan Anda ketika membaca atau mendengar kata "selingkuh"? Marah? Galau? Tidak suka? Terkejut? Biasa-biasa saja? Atau justru penasaran ingin tahu lebih banyak? Dulu orang mungkin risih menyebutnya, sekarang orang sering membicarakan. Perselingkuhan banyak dilakukan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Padahal, sebenarnya "selingkuh" adalah pengganti kata "cabul" dan "zina" yang dibenci Allah.
Rasul Paulus menggambarkan betapa seriusnya dosa percabulan dan perzinaan, yang disejajarkan dengan dosa-dosa yang merintangi pelakunya menjadi bagian dari Kerajaan Allah (ay. 9, 10). Bukan itu saja. Paulus menggambarkan bahwa tubuh kita adalah tempat kediaman Roh Kudus. Allah sendiri yang membelinya dengan harga yang sangat mahal, yaitu dengan pengurbanan Anak-Nya di atas kayu salib. Maka sesungguhnya perzinaan adalah penghinaan besar terhadap Allah. Percabulan juga mencemari tubuh kita sendiri yang mulia, yang telah disucikan, dan yang telah menjadi milik-Nya. Yang lebih penting lagi: suatu ketika nanti, tubuh kita ini akan dibangkitkan kembali oleh kuasa-Nya.
Peringatan Rasul Paulus sangatlah perlu kita simak. Kita yang mulai tergoda melakukan perselingkuhan perlu waspada untuk menjaga kekudusan dengan memperhatikan peringatan ini. Yang sudah terjatuh wajib segera memohon pengampunan dan pengudusan kembali, lalu bangkit kembali dengan tekad yang baru. Kita hanya boleh menggunakan tubuh kita untuk memuliakan Allah (ay. 20). --Heman Elia/Renungan Harian
PERSELINGKUHAN BUKANLAH DOSA YANG BIASA SAJA,
MELAINKAN PENCEMARAN TUBUH DAN PENISTAAN TERHADAP TUHAN.
http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160512

Renungan Harian Edisi : 11 Mei 2016


Rabu, 11 Mei 2016

Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 1-2
Nats: Sebab adalah anugerah jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. (1 Petrus 2:19)

Anugerah Suka-Duka

Bacaan: 1 Petrus 2:18-25

Dokter Lo Siaw Ging sempat menjadi pembicaraan hangat di media sosial. Dokter tua yang harus menggunakan tongkat untuk berjalan ini tinggal di Solo. Rumahnya selalu ramai oleh pasien. Ia hidup sederhana, tak pernah memasang tarif pengobatan, peduli dengan kemampuan finansial pasien, dan, tak main-main, ia mau menanggung biaya enam hingga delapan juta rupiah per bulan untuk menebus obat pasien. Pernah ada pasien marah dan tersinggung karena tak dikenai tarif, namun ia tetap bertahan melayaninya. Prinsipnya, menjadi dokter adalah pekerjaan mulia, dan bukan sarana untuk menjadi kaya.
Petrus mengatakan bahwa menanggung penderitaan secara sadar karena melayani Kristus adalah kasih karunia (ay. 19). Yesus sendiri memberi teladan dalam menanggung penderitaan agar para pengikut-Nya menyadari panggilan untuk menderita bagi pemberitaan Injil Kristus (ay. 24).
Dunia menilai hamba Tuhan identik dengan gaya hidup minimalis, serbasederhana dalam sandang, pangan, dan papan. Tak semua orang mau menjadi hamba Tuhan karena konsekuensi itu. Mengikuti Kristus berarti secara sadar menyerahkan hidup bagiNya dan tahu siapa yang memelihara hidupnya (ay. 25). Memang tak selalu mulus, hanya harus diingat bahwa susah ataupun senang yang ditanggung pelayan Kristus adalah kasih karunia semata. Tak ada motivasi lain yang lebih besar untuk tetap setia melayani-Nya, kecuali kasih Kristus itu sendiri. --Ari Tyas Susanti/Renungan Harian
SUKA-DUKA SAAT MELAYANI TUHAN ADALAH KASIH KARUNIA SEMATA.
 http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160511

Renungan Harian Edisi : 10 Mei 2016


Selasa, 10 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 24-25
Nats: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada a (Matius 28:19-20)

Siaga 24 jam

Bacaan: 2 Timotius 4:1-5 

Pekerjaan di bidang kesehatan adalah profesi yang berat. Di tempat saya bekerja, seorang dokter harus siap siaga selama 24 jam. Bagaimanapun kondisi saat itu, baik sedang makan, minum, atau lelah, seorang dokter harus memberikan kualitas pelayanan yang optimal. Mengapa? Karena nyawa pasien tergantung pada tindakan dokter dan perawat, bagaimanapun letihnya kondisi fisik mereka. Bila mereka lengah, nyawa pasien dapat terancam. Ya, mereka harus siap kapan pun waktunya.
Kesiapan yang sama juga diharapkan dari seluruh pengikut Kristus. Dalam suratnya, Paulus berpesan pada Timotius, "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya" (ay. 2a). Entah ketika ada kesempatan, entah ketika situasi pribadi Timotius baik, entah ketika ada pertentangan di jemaat, entah ketika Timotius sedang menderita, ia didorong untuk terus memberitakan kabar baik.
Amanat Agung Allah untuk menjadikan seluruh bangsa murid Kristus berlaku bagi kita semua. Bagaimanapun kondisi kita, baik atau buruk, kita dapat membagikan kasih Kristus pada orang lain. Bayangkan seandainya para dokter dan perawat letih sehingga memilih untuk tidak menolong pasien. Demikian halnya jika kita memilih diam karena kita letih dan tidak mau membagikan kasih Kristus, tentu banyak jiwa yang tidak pernah mendengar tentang Dia. Oleh karena itu, marilah kita siap sedia kapan pun waktunya untuk membagikan kasih Kristus! --Adeline Pasaribu/Renungan Harian
BERITAKANLAH INJIL SETIAP SAAT DAN BILA PERLU GUNAKAN KATA-KATA.
—FRANSISKUS ASISI

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160510

Renungan Harian Edisi : 09 Mei 2016


Senin, 9 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 21-23
Nats: Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

Masih Untung

Bacaan: 1 Tesalonika 5:12-22 

Kakak ipar saya kecelakaan sehingga kaki kanan bawah lutut patah dua bagian. Operasinya menelan biaya sangat besar. Namun, ia bersyukur karena: tabrakan terjadi bukan dalam perjalanan berangkat mengantar anaknya, tapi dalam perjalanan pulang, sehingga anaknya tidak turut mengalami kecelakaan; bukan ia yang menabrak, tapi yang ditabrak; Tuhan meluputkannya dari benturan kepala. Ia kecelakaan dan mengalami kerugian sangat besar, namun merasa masih beruntung, masih ada hal-hal yang patut disyukuri.
Orang lebih mudah mengucap syukur atas situasi baik dan menyenangkan. Sebaliknya pada saat menghadapi situasi buruk dan sulit, manusia sering marah dan mengutuki Tuhan. Hal ini yang dilakukan oleh istri Ayub. Ia menyuruh Ayub mengutuki Tuhan atas hal-hal buruk dan sulit yang menimpanya (Ayb. 2:9). Ayub menjawab, "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam semuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayb. 2:10). Menurut Ayub, orang yang hanya mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk, ia seperti orang gila.
Rasul Paulus menghadapi situasi buruk dan sulit di penjara namun ia mengajarkan jemaat untuk mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus (Ef. 5:20; 1 Tes. 5:18). Mungkin saat ini, Anda sedang mengalami situasi buruk dan sulit, percayalah, pasti Anda masih beruntung--masih ada hal-hal yang patut Anda syukuri. Karena itu, mengucap syukurlah. --Lim Ivenina Natasya/Renungan Harian
MASIH ADA HAL-HAL YANG PATUT DISYUKURI DI BALIK SITUASI BURUK
DAN SULIT YANG KITA ALAMI.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160509

Minggu, 08 Mei 2016

Renungan Harian Edisi 08 Mei 2016


Minggu, 8 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 18-20
Nats: Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wahyu 3:20)

Ketukan Pintu

Bacaan: Wahyu 3:14-22 

Seorang pendeta yang saat ini bertugas di Malang melakukan hal yang belum pernah saya jumpai. Sebelum memulai pelayanannya di sebuah gereja di kota tersebut, ia terlebih dulu meminta diantar para anggota majelis untuk mengunjungi rumah setiap warga jemaat. Ia mengetuk pintu rumah mereka masing-masing dan berbincang dengan keluarga ini. Perlu waktu beberapa hari untuk mengunjungi rumah setiap warga.
Tuhan Yesus menyapa setiap pribadi yang ada di seluruh dunia ini. Sebagai gembala Dia mengetuk setiap hati supaya bersedia mengikuti-Nya. Dia akan membimbing siapa saja yang mau membukakan pintu untuk-Nya menuju jalan yang benar. Dia akan memimpin langkah setiap orang yang mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat menuju kehidupan kekal.
Tuhan Yesus pun mengetuk pintu hati kita. Ketika kita mau membukakannya, kita menerima Dia menjadi gembala atas hidup kita. Tetapi, bisa jadi saat ini hingar-bingar dunia membuat kita jauh dari jalan yang dikehendaki-Nya. Kita terlalu sibuk meraih segala pencapaian duniawi yang memuaskan kedagingan kita. Kegaduhan dunia sering membuat kita tidak mendengar saat Kristus mengajak kita menikmati persekutuan dengan-Nya.
Dia terus-menerus menyapa kita, mengingatkan kita tentang jalan yang seharusnya kita tempuh. Dia tidak mau kita tersesat. Jika kita telah terlampau jauh "menggelandang", ini saatnya kembali dan menikmati hidangan makan yang sudah disediakan-Nya: hidup selaras dengan kehendak-Nya. --Gigih Dwiananto/Renungan Harian
TUHAN YESUS RINDU BERSEKUTU DENGAN KITA;
APAKAH KITA BERGAIRAH MERESPONS KERINDUAN-NYA?

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160508

Renungan Harian Edisi, 07 MEI 2016

Sabtu, 7 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 16-17
Nats: Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN. (Yunus 2:7)

Perut Ikan

Bacaan: Yunus 2:1-10 

Yunus diombang-ambingkan ombak di lautan kelam ketika mengingkari panggilan Tuhan. Namun, jiwa Yunus, yang lemah dan penuh kekhawatiran selama terhempas gelombang pasang, akhirnya disentuh oleh tangan Tuhan saat ia berada di dalam perut ikan besar yang menelannya hidup-hidup.
Berada di dalam perut ikan menyadarkan Yunus bahwa sekalipun ia telah berbuat dosa dan lari mengingkari panggilan Tuhan (ay. 4), kasih Tuhan, yang lebih besar daripada perut ikan yang menelannya, kembali menjamah dan menyadarkannya akan kesalahan dan dosa yang ia perbuat (ay. 6). Di dalam ruang sempit, ia kemudian menyadari bahwa samudera dan gelombang yang menghampirinya begitu dekat tak mampu mengalangi pengampunan Allah yang membawanya menerima keselamatan (ay. 9).
Ada saat-saat dalam hidup ini ketika kita merasa sedang berada di dalam perut ikan. Situasi yang suram, gelap pekat, sempit untuk berpikir, diiringi aroma tak sedap masalah kita, dan tak ada seorang pun yang akan menolong. Di dalam ‘perut ikan’, kepada siapa kita menaruh pengharapan?
Ingatlah bahwa ketika Yunus berada di tempat yang serupa, ia memilih untuk memanggil nama Tuhan, memohon ampun, dan mensyukuri penyertaan-Nya yang masih tetap sama besarnya. Berada dalam perut ikan mengingatkan Yunus akan kasih Allah yang tiada terukur. Ia mengucap syukur, memohon ampun, dan berjanji untuk melakukan perintah Tuhan. Semoga kita pun demikian. --Yessica Kansil/Renungan Harian
LEBIH BAIK BERADA DI PERUT IKAN BERSAMA TUHAN
DARIPADA BERDIAM DI TEMPAT TENANG SEORANG DIRI.
http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160507

Jumat, 06 Mei 2016

Renungan Harian Edisi 06 Mei 2016


Jumat, 6 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 14-15
Nats: Saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah. (Yakobus 1:19)

Tak Perlu Marah

Bacaan: Yakobus 1:19-27 

Suatu pagi yang indah, saya begitu bersemangat ke kantor. Namun ketika rapat dimulai, mendadak emosi saya mulai tak terkontrol. Hampir semua divisi belum menyelesaikan laporan pertanggungjawaban yang diberikan beberapa waktu lalu. Saat itu, saya pun tanpa sadar melontarkan komentar yang sinis terhadap mereka.
Ketika makan siang tiba, entah kenapa kejadian di rapat muncul kembali di dalam memori. Sejenak saya merenungkan apa yang sudah terjadi. Saya menyesali ucapan saya tadi. Saya mencoba menempatkan diri di posisi mereka. Bagaimana perasaan mereka? Apakah dengan komentar yang sinis tersebut mereka akan belajar dan berkembang? Apakah ke depan nanti mereka akan mempunyai hubungan kerja yang baik dengan saya?
Sebagai seorang atasan, pekerja, teman, orangtua, atau sebagai apa pun kita di lingkungan, mungkin seringkali kita dikecewakan atau, sebaliknya, mengecewakan orang lain. Tetapi, bagaimana respons kita dalam menanggapi setiap persoalan yang ada, itulah kunci dari persoalan tersebut. Apakah kita mudah terpancing? Apakah kita berdiam diri sejenak? Apakah kita bersikap masa bodoh dan tidak peduli? Apakah kita mengabaikan? Atau apakah kita mencari Tuhan?
Firman Tuhan mengingatkan kita agar cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata (ay. 19). Amarah manusia tidak mendatangkan kebenaran dan kebaikan. Tidak perlu marah-marah ketika muncul masalah. Ketika kita tenang dan mampu berpikir jernih, kita relatif lebih mudah menemukan solusi yang tepat. --Selly Miarani/Renungan Harian
KEMARAHAN TAK TERKONTROL BISA MERUSAK HUBUNGAN,
TANPA MENAWARKAN JALAN KELUAR YANG DIPERLUKAN.

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160506

Renungan Harian ediisi 05 Mei 2016


Kamis, 5 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 11-13
Nats: Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. (Yohanes 16:14)

Dipimpin Roh Kudus

Bacaan: Yohanes 16:4-15

Tiga tahun murid-murid berjalan, bekerja, dan bercakap-cakap dengan Yesus. Mereka percaya kepada-Nya dan mengasihi-Nya. Kemudian pada suatu malam, Yesus menyampaikan berita yang mengejutkan. Dia akan segera mati. Para murid kecewa dan tawar hati. Tetapi, Yesus berkata bahwa Dia pergi kepada Bapa dan akan datang Penolong lain, yang akan tinggal bersama mereka selama-lamanya dan memberi mereka kuasa untuk bersaksi.
Penolong itu sudah datang, yaitu Roh Kudus. Dia tinggal dan berdiam dalam hati para pengikut-Nya. Hebatnya, Roh Kudus tinggal bersama mereka selama-lamanya dan ditawarkan kepada setiap pribadi. Roh Kudus datang untuk bersaksi tentang Kristus, menginsafkan akan dosa, menuntun pada segala kebenaran, memberikan keberanian, dan hikmat. Melalui kuasa Roh Kudus, kehidupan Kristus, sifat-sifat-Nya, kuasaNya, dan kekuatan-Nya nyata melalui kehidupan seseorang. Setiap orang yang dikuasai Roh Kudus tak akan menjalankan tugasnya dengan kekuatan sendiri atau meniru-niru sifat Kristus. Hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan kata lain, Kristus sendiri menyatakan kehidupan-Nya melalui kehidupan orang itu.
Orang yang dipimpin Roh Kudus pasti hidup mempermuliakan Kristus. Ya, Roh Kudus datang untuk mempermuliakan Kristus. Bersaksi tentang Dia dan menginsafkan dunia akan dosa serta memberitahukan penghakiman atas dunia. Roh Kudus akan memakai kita untuk tugas itu, jika kita mempersilakan Dia memimpin dan menguasai hidup kita. --Piter Randan Bua/Renungan Harian
SEJAK DILAHIRKAN KEMBALI ORANG KRISTEN TELAH DIDIAMI ROH KUDUS,
TETAPI TIDAK SEMUA ORANG KRISTEN DIKUASAI ROH KUDUS. --BILL BRIGHT

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160505

Rabu, 04 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 04 MEI 2016

Rabu, 4 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 9-10
Nats: Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu. (Daniel 3:18)

Berhala Modern

Bacaan: Daniel 3:13-18 

Apa yang menyebabkan Anda sering sekali tidak beribadah kepada Tuhan, baik pada hari Minggu untuk pergi ke gereja atau saat teduh pribadi Anda sendiri? Apa yang menjadi berhala kita untuk tidak datang menyembah Tuhan? Mungkin kesibukan mengurus rumah tangga, pekerjaan yang menumpuk, pasangan kita, uang, atau apa pun bisa menjadi berhala kita.
Berhala umumnya adalah patung-patung yang menyerupai bentuk apa pun (benda mati). Dalam kisah di Perjanjian Lama ini, bentuknya sebuah patung emas dengan tinggi enam puluh hasta (kira-kira 27 meter) dan lebar enam hasta.
Tapi sesungguhnya berhala itu berarti mementingkan sesuatu lebih besar daripada mengutamakan Tuhan. Bukan sekadar patung, tetapi sesuatu yang merintangi kita untuk datang pada Tuhan.
Dalam kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang diperintahkan Raja Nebukadnezar untuk menyembah sebuah patung emas itu, mereka tetap berpegang teguh kepada kebenaran dan tidak berkompromi. Berpegang teguh pada kebenaran berarti kita harus mengenal kebenaran itu. Dan bagaimana kita dapat mengenal kebenaran kalau kita tidak bersekutu dengan Tuhan? Karena apa yang menurut dunia itu benar, belum tentu benar menurut Alkitab. Sementara tidak berkompromi berarti jika ‘iya’ katakanlah ‘iya’ dan jika ‘tidak’ katakanlah ‘tidak’.
Seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang memiliki prinsip untuk tidak menyembah berhala, kita pun kiranya dapat memiliki keteguhan hati yang serupa. --Selly Miarani/Renungan Harian
BERANIKAH BERKATA ‘TIDAK’ UNTUK BERHALA YANG MEMBUAT KITA JAUH DARI TUHAN?

http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160504

Selasa, 03 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 03 Mei 2016


Selasa, 3 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 6-8
Nats: Kata-Nya lagi kepada mereka, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu." (Lukas 12:15)

Cicak dan Kadal

Bacaan: Lukas 12:13-21 

Meskipun tidak berakal budi, hewan punya naluri untuk menyelamatkan diri. Contohnya cicak dan kadal. Dalam keadaan terdesak, mereka akan memutuskan ekornya. Ketika perhatian pemangsa lengah akibat ekor yang putus, cicak dan kadal akan segera lari menyelamatkan diri. Jadi, jangan aneh jika melihat cicak atau kadal tanpa ekor. Itu artinya, mereka baru saja luput dari pemangsa. Tidak apa-apa. Setelah sekian lama, ekor yang baru akan tumbuh kembali.
Sayang, perumpamaan yang kita baca hari ini menunjukkan, sekalipun berakal budi--maafkan saya--kadang manusia tidak lebih pintar dari hewan. Ada orang yang berlimpah-limpah hartanya, lalu ia menjadi tamak, dan menggantungkan hidup dari kekayaannya (ay. 15). Tuhan tidak membenci orang kaya. Tuhan juga tidak membenci kekayaan. Namun, di hadapan Tuhan, orang yang tamak dan menggantungkan hidup dari kekayaannya adalah orang bodoh (ay. 20).
Apa pun keadaan kita saat ini, baiklah kita bersikap rendah hati. Gantungkanlah hidup kita sepenuhnya hanya pada Tuhan. Jangan gantungkan hidup pada hal yang lain. Jangan tamak dan bermegah atas segala kekayaan. Ketahuilah, masih banyak hal lain, yang lebih berharga dari segala kekayaan. Kesehatan kita lebih berharga dari kekayaan. Keluarga kita lebih berharga dari kekayaan. Hidup kita lebih berharga dari kekayaan. Dan di atas semuanya itu, Kristus lebih berharga dari segala kekayaan. Selagi mampu, kumpulkanlah harta. Namun, jadilah kaya di hadapan Allah (ay. 21). --Okky Sutanto/Renungan Harian
BANYAK ORANG MENJADI KAYA, NAMUN TIDAK DI HADAPAN ALLAH.
http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160503

Senin, 02 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 02 Mei 2016


Senin, 2 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 4-5
Nats: Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: "Roh Elia telah hinggap pada Elisa." (2 Raja-Raja 2:15)

Tak Pernah Mati

Bacaan: 2 Raja-raja 2:1-18

Kecelakaan mobil merenggut nyawa Lenny Robinson. Pria paruh baya dari Maryland itu dikenal sebagai Batman di kota asalnya. Pasalnya, ia sering melawat dan menghibur anak-anak yang sedang dirawat di rumah sakit dengan mengenakan kostum superhero itu. Sepuluh tahun kebiasaan itu dilakukannya dengan setia. Bagi anak-anak yang pernah dihiburnya, ia tak pernah mati. Selain karena Batman tak pernah mati, juga karena kebaikannya itu terlanjur melekat di hati mereka.
Elia dikenal sebagai nabi yang tak pernah mati. Ia diangkat ke surga disaksikan oleh muridnya, Elisa (ay. 11). Orang-orang yang mencarinya tak pernah menemukannya lagi (ay. 17). Dan yang terutama roh dan wibawanya beralih kepada Elisa (ay. 15). Sepeninggal Elia, Elisa benar-benar mewakili ke hadirannya di dunia. Tak pernah matinya Elia terungkap pula dalam sosok Yohanes Pembaptis yang disebutkan berjalan "dalam roh dan kuasa Elia" (Luk 1:17). Pengaruh yang diberikan Elia selama hidupnya amat besar!
Kita bukan Elia, bukan pula superhero. Kita bisa dan akan mati. Namun, Tuhan menghendaki kita memberikan pengaruh positif yang membekas dalam hati sesama di seputar kehidupan kita. Kerinduan-Nya ialah kita hidup luhur. Subur. Berbuah dan buah itu tetap (Yoh. 15:16) -- tetap membekas di hati siapa saja yang pernah mengecap manisnya. --Pipi A. Dhali/Renungan Harian
JEJAK KEBAIKAN YANG MEMBEKAS DI HATI
AKAN TETAP HIDUP DAN MENJADI SUMBER INSPIRASI.
 http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160502

Minggu, 01 Mei 2016

Renungan Harian Edisi : 1 Mei 2016


Minggu, 1 Mei 2016

Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 1-3
Nats: Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kolose 3:13)

Mempraktekkan Kasih

Bacaan: Kolose 3:5-17

Dua orang rekan kami bekerja sama memulai bisnis. Karena tergiur keuntungan sesaat, salah satu pihak mengambil semua modal usaha dan kabur ke luar kota. Pihak kedua rugi besar dan harus berurusan dengan para konsumen yang menagih. Teman yang kabur ini akhirnya kembali karena menyadari dosanya dan minta maaf. Kawan yang dirugikan itu nyatanya mau dengan tulus mengampuni kesalahan kawannya. Mereka pun berdamai.
Mengampuni, memaafkan, berbelas kasih, memang enak diucapkan, namun tidak selalu mudah dilakukan. Kalau saat ini kita merasa terlalu sulit mengampuni seseorang karena hal-hal tertentu yang membuat kita mengalami banyak kesusahan, marilah kita melihat cara Tuhan bertindak. Kita sebagai manusia baru diperintahkan untuk mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi. Belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, adalah karakter Allah. Sebagai manusia baru, tentunya berbagai karakter Allah ini harus kita miliki. Kalau Tuhan mau mengampuni segala dosa kita, tentu saja kita sendiri harus belajar mengampuni. Kalau Tuhan tidak menyimpan dendam, kita tidak menyimpan dendam.
Jika kita belajar bertindak seperti prinsip Allah, tidak ada istilah sulit atau terlalu berat untuk mengampuni seseorang. Marilah kita belajar rendah hati dan merasakan kasih Tuhan dalam hidup kita sebelum mengampuni seseorang. Maka, saat kita mengucapkan "Aku memaafkanmu" atau "Aku mengampunimu, " kata-kata itu benar-benar keluar dari lubuk hati yang terdalam dan tulus. --Richard Tri Gunadi/Renungan Harian
KETIKA KITA MENGAMPUNI SESAMA, KITA MENGENAKAN KARAKTER TUHAN.
 http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160501