|
Berisi tentang cerita, foto, ataupun tulisan yang berhubungan dengan kehidupan kristiani, yang meneladani hidup Kristus sebagaimana yang diperintahkan Tuhan untuk kita.
Kamis, 12 Mei 2016
Renungan Harian Edisi : 12 Mei 2016
Renungan Harian Edisi : 11 Mei 2016
|
Renungan Harian Edisi : 10 Mei 2016
|
Renungan Harian Edisi : 09 Mei 2016
|
Minggu, 08 Mei 2016
Renungan Harian Edisi 08 Mei 2016
|
Renungan Harian Edisi, 07 MEI 2016
| Sabtu, 7 Mei 2016 Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 16-17 Nats: Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN. (Yunus 2:7) |
|
| Bacaan: Yunus 2:1-10
Yunus diombang-ambingkan ombak di lautan kelam ketika mengingkari panggilan Tuhan. Namun, jiwa Yunus, yang lemah dan penuh kekhawatiran selama terhempas gelombang pasang, akhirnya disentuh oleh tangan Tuhan saat ia berada di dalam perut ikan besar yang menelannya hidup-hidup.
Berada di dalam perut ikan menyadarkan Yunus bahwa sekalipun ia telah berbuat dosa dan lari mengingkari panggilan Tuhan (ay. 4), kasih Tuhan, yang lebih besar daripada perut ikan yang menelannya, kembali menjamah dan menyadarkannya akan kesalahan dan dosa yang ia perbuat (ay. 6). Di dalam ruang sempit, ia kemudian menyadari bahwa samudera dan gelombang yang menghampirinya begitu dekat tak mampu mengalangi pengampunan Allah yang membawanya menerima keselamatan (ay. 9).
Ada saat-saat dalam hidup ini ketika kita merasa sedang berada di dalam perut ikan. Situasi yang suram, gelap pekat, sempit untuk berpikir, diiringi aroma tak sedap masalah kita, dan tak ada seorang pun yang akan menolong. Di dalam ‘perut ikan’, kepada siapa kita menaruh pengharapan?
Ingatlah bahwa ketika Yunus berada di tempat yang serupa, ia memilih untuk memanggil nama Tuhan, memohon ampun, dan mensyukuri penyertaan-Nya yang masih tetap sama besarnya. Berada dalam perut ikan mengingatkan Yunus akan kasih Allah yang tiada terukur. Ia mengucap syukur, memohon ampun, dan berjanji untuk melakukan perintah Tuhan. Semoga kita pun demikian. --Yessica Kansil/Renungan Harian
LEBIH BAIK BERADA DI PERUT IKAN BERSAMA TUHAN
DARIPADA BERDIAM DI TEMPAT TENANG SEORANG DIRI.
http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160507
|
Jumat, 06 Mei 2016
Renungan Harian Edisi 06 Mei 2016
|
Renungan Harian ediisi 05 Mei 2016
|
http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160505
Rabu, 04 Mei 2016
Renungan Harian Edisi : 04 MEI 2016
| Rabu, 4 Mei 2016 Bacaan Setahun: 2 Raja-Raja 9-10 Nats: Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu. (Daniel 3:18) |
|
| Bacaan: Daniel 3:13-18
Apa yang menyebabkan Anda sering sekali tidak beribadah kepada Tuhan, baik pada hari Minggu untuk pergi ke gereja atau saat teduh pribadi Anda sendiri? Apa yang menjadi berhala kita untuk tidak datang menyembah Tuhan? Mungkin kesibukan mengurus rumah tangga, pekerjaan yang menumpuk, pasangan kita, uang, atau apa pun bisa menjadi berhala kita.
Berhala umumnya adalah patung-patung yang menyerupai bentuk apa pun (benda mati). Dalam kisah di Perjanjian Lama ini, bentuknya sebuah patung emas dengan tinggi enam puluh hasta (kira-kira 27 meter) dan lebar enam hasta.
Tapi sesungguhnya berhala itu berarti mementingkan sesuatu lebih besar daripada mengutamakan Tuhan. Bukan sekadar patung, tetapi sesuatu yang merintangi kita untuk datang pada Tuhan.
Dalam kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang diperintahkan Raja Nebukadnezar untuk menyembah sebuah patung emas itu, mereka tetap berpegang teguh kepada kebenaran dan tidak berkompromi. Berpegang teguh pada kebenaran berarti kita harus mengenal kebenaran itu. Dan bagaimana kita dapat mengenal kebenaran kalau kita tidak bersekutu dengan Tuhan? Karena apa yang menurut dunia itu benar, belum tentu benar menurut Alkitab. Sementara tidak berkompromi berarti jika ‘iya’ katakanlah ‘iya’ dan jika ‘tidak’ katakanlah ‘tidak’.
Seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang memiliki prinsip untuk tidak menyembah berhala, kita pun kiranya dapat memiliki keteguhan hati yang serupa. --Selly Miarani/Renungan Harian
BERANIKAH BERKATA ‘TIDAK’ UNTUK BERHALA YANG MEMBUAT KITA JAUH DARI TUHAN?
http://sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160504
|
Selasa, 03 Mei 2016
Renungan Harian Edisi : 03 Mei 2016
|
Senin, 02 Mei 2016
Renungan Harian Edisi : 02 Mei 2016
|
Minggu, 01 Mei 2016
Renungan Harian Edisi : 1 Mei 2016
|
Langganan:
Postingan (Atom)
